Showing posts with label pengalaman kemoterapi. Show all posts
Showing posts with label pengalaman kemoterapi. Show all posts

Suplemen Pendamping Kemoterapi

By sulthan on Thursday, January 26, 2017

Dari kiri atas ke bawah: jus buah sayur, susu, wheat grass, jamu mangandeuh, jamu kunyit

Sudah setahun sejak suami saya, Tessal, divonis kanker usus besar stadium 3. Sudah hampir setahun juga sejak operasi pengangkatan usus, dan sudah 5 bulan berlalu sejak kemoterapi terakhir. Sekarang? Alhamdulillah suami saya fit, sudah full lepas obat, dan sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Walaupun kami masih harus menjaga makan &; lifestyle selama minimal 2 tahun sebelum akhirnya bisa mengklaim diri sebagai cancer survivor (kontrol dan tes rutin masih tetap harus dilakukan sampai 2 tahun ke depan. Baca lengkapnya di post ini).

Saat suami saya divonis kanker, berbagai macam informasi alternatif pengobatan bermunculan di hadapan kami, tapi akhirnya dengan dukungan penuh dari keluarga, kami mengambil jalan tengah. Kami tetap mengikuti prosedur medis yang memang sudah ada, which were operasi dan kemoterapi, tapi menggunakan asupan herbal dan natural sebagai suplemen untuk mendukung daya tahan tubuh suami saya selama proses kemoterapi, because you know.. Chemotherapy was so eeerrgghh.. (baca cerita kemoterapi suami saya disini).

Dan.. Di post kali ini saya ingin berbagi review tentang aneka supplemen herbal yang dikonsumsi oleh suami saya selama proses kemoterapi dan dilanjutkan sekarang. Note that bahkan sampai sekarang, saya masih menyediakan aneka jejamuan ini untuk suami saya setiap hari 2x sehari. Will never stop until he is claimed as a cancer free person. Post ini juga saya tujukan untuk teman saya Anggi yang sempat bertanya pada saya tentang ini tapi belum sempat saya balas dengan mendetail sampai sekarang (sorry Anggiiii.. Here's for you yaaa). So here it is.. Aneka suplemen dan jamu untuk pendamping kemoterapi.

1. Jamu Kunyit
Kunyit gede atau bahasa kerennya turmeric mengandung anti-oxidant dan anti-inflamatory yang sangat kuat. Menurut Cancer Research UK, curcumin (kandungan utama kunyit) memiliki efek anti kanker. Dia mampu membunuh sel kanker dan mencegah pertumbuhannya, terutama pada kanker payudara, usus, dan kulit. Studi lainnya dari Amerika di tahun 2007 mengatakan bahwa proses kemoterapi yang dikombinasikan dengan konsumsi curcumin memiliki efek membunuh sel kanker yang lebih hebat daripada jika kemoterapi dilakukan sendiri. Jamu kunyit ini biasa saya bikin manual dengan bantuan ibu saya (kunyit gede & kunyit putih direbus gitu), atau kalau mau praktis dan untuk traveling, saya pakai yang sudah berbentuk bubuk (yes, even traveling pun tak lupa jamu kunyit). Jamu ini dicampur oleh air asam jawa /apple cider vinegar dan gula jawa atau madu, supaya rasanya lebih enak. FYI, untuk menemani suami supaya dia mau minum, saya juga rutin minum ini. Hehe..

2. Jamu Batang Mangandeuh/Benalu
Batang mangandeuh ini di-supply oleh mama mertua saya dari Subang. Cara bikinnya direbus di kendi tanah liat sampai airnya kecoklatan. Manfaat yang paling terasa dari jamu ini adalah untuk mengurangi efek kesemutan di ujung-ujung jari setelah kemoterapi.

3. Juice Buah & Sayur
Saya invest di slow juicer untuk membuat sari buah dan sayur untuk suami saya. Kadang rasanya gak karu-karuan memang karena saya campur macam-macam buah dan sayur yang khususnya cancer fighter seperti bit & wortel, tapi saya paksa aja cekokin dia buat minum. Hehe..

4. Wheat Grass Powder
Wheat grass mengandung klorofil, selenium, dan laetril sebagai agen 'penyerang' kanker. Selain itu, wheat grass dikenal sebagai makanan yang bersifat alkali (kanker tumbuh karena kondisi tubuh sangat asam), oleh karena itu bagus untuk mendukung 'penyerangan sel kanker'. Wheat grass powder ini bisa dibeli di toko-toko organik dengan harga kurang lebih Rp 95.000 per jar. Kalau toko organik favorit saya itu www.nourishindonesia.com

5. Susu Suplemen Peptamen
Selesai operasi dan saat belum bisa makan, suami saya hanya minum susu peptamen ini, tapi tetap kami lanjutkan selama proses kemoterapi karena kandungan nutrisinya yang memang tinggi. Sekarang, suami saya sudah tidak minum lagi karena sepertinya susu ini berkontribusi meningkatkan berat badan dengan cukup cepat (tetep maunya ganteng. Wkwk).

6. Ekstrak Drop Jamur Maitake
Fungsi utama dari kandungan jamur maitake adalah mencegah pertumbuhan sel tumor. Kami mendapatkan vitamin ini dari salah satu kolega suami di Korea. Saya sempat ngerasain juga. Enaaak.. Hehe.. Tapi konsumsi berakhir setelah 2 botol habis karena ternyata belinya di Singapore dan harganya juga lumayan (sekitar 125 SGD per botol).



7. Transfer Factor
Yang ini, saya dan Zeya juga minum. Dari semua vitamin, ini yang masih kami minum sampai sekarang. Harganya memang cukup mahal, sekitar Rp 800.000 1 botolnya. Tapi vitamin ini super oke bangeeettt.. Sebagai 'pendidik sistem imun', vitamin ini mensupport sistem imun kita untuk tahan & menyerang saat diserang. Saya sampai jadi member demi bisa dapat TF ini dengan harga member.



8. Celergen
Nah ini another super power vitamin yang asalnya dari Swiss. Celergen diekstrak dari hewan laut dan berfungsi untuk menutrisi sel & menghambat penuaan dini. Obat awet mudah celeb-celeb Hollywood ceritanya.. Hehe.. Untuk 30 butir pil, harganya sekitar USD 350, dan kami beruntung banget karena dihadiahi 1 box oleh teman saya tersayang (Thanks Pipi! :*).



9. Propolis
Propolis berasal dari air lebah dan digunakan oleh para lebah untuk menambal sarang, mencegahnya dari serangan bakteri, virus, dan jamur. Kandungan utamanya bioflavonoid yang bermanfaat sebagai anti oksidan dan menjaga vitalitas pembuluh darah, karena salah satu efek kemoterapi adalah pembuluh darah menjadi lebih kecil dan rapuh (sempat pada satu sesi kemoterapi, pembuluh darah suami saya mendadak susah dicari sehingga harus berkali-kali ditusuk :(). Propolis ini diminum dengan cara 12 tetes dicampur ke dalam air hangat dan diaduk menggunakan sendok kayu/plastik.



10. Madu
Sama seperti propolis, madu mengandung banyak flavonoid, dan banyak sekali manfaat madu yang berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Jadi, mulai dari manuka honey sampai madu herbal, suami saya minum 2 sendok teh (sendok kayu atau plastik) setiap pagi dan malam).



11. Kangen Water/Zam-zam
Kangen water dan air zam-zam bersifat alkali (basa), sehingga di kesehariannya suami saya pasti mengkonsumsi air ini minimal 3 liter.

12. Bawang putih cincang
Bawang putih mengandung zat anti infeksi dan anti radang yang sangat tinggi. Jadi salah satu rutinitas suami saya adalah menelan bawang putih cincang 1 siung, lagi-lagi setiap pagi dan malam.

13. Young Living Essential Oil
I'm an oil kind of person. Saya suka sekali oles-oles essential oil untuk berbagai kebutuhan. Selama suami saya kemoterapi, essential oil jagoan saya adalah; Lemon, untuk menghilangkan rasa mual dan support daya tahan tubuh. Frankincense, essential oil anti kanker paling kuat. Satu tetes di bawah lidah sebelum tidur. Di-Gize, untuk oleh-oles perut kalau kembung. Stress Away; untuk memberikan efek relaks dan nyaman jika efek kemo menyerang. Biasanya saya urutkan (dicampur dengan minyak kelapa/VCO dulu) di punggung dan daerah leher.



14. Air Rebusan Sereh
Sereh ternyata mengandung banyak sekali manfaat, lho! Melindungi kerusakan DNA, menghancurkan patogen jahat, menetralkan radikal bebas, dan sebagainya. Maka, air rebusan sereh menjadi salah satu terapi untuk suami saya walaupun untuk yang satu ini saya kurang rutin kasihnya. *peace!



Tidak ada yang menjamin bahwa mengkonsumsi aneka jamu, vitamin dan makanan di atas pasti kanker sembuh 100%, tapi kita harus terus berusaha dan ikhtiar, right? Pada akhirnya Allah lah yang menyembuhkan, dan pada akhirnya, jangan pernah bertindak 'semau gue', karena dalam ilmu medis pun pengobatan kanker itu sudah ada protokolnya. So always consult to your doctor. Alhamdulillah kami mendapatkan dokter yang open minded dan tidak saklek anti herbal. Konsumsi jamu-jamu ini juga saya sampaikan kepada dokter yang menangani suami dan beliau mendukung selama dosisnya wajar dan memang digunakan sebagai suplemen, bukan sebagai pengganti obat.

Sekarang, perjuangan belum berakhir. Kami masih harus ketat menjaga asupan makan, gaya hidup, dan suplemen ini supaya hasil tes rutin tetap bagus dan si crazy cancer gak balik lagi. Banyak orang bertanya, mau ya suaminya minum segitu banyak jamu? Jawabannya HARUS MAU. Gimanapun harus terus disemangati supaya mau, kalau perlu saya minum juga, gak apa-apa deh. Disuapin, diingetin tiap jam, disodorin depan muka, anything asal dia mau minum. Hehe..

So, for you out there who is battling with cancer or having loved ones fighting cancer, pesan saya cuma satu, jangan berhenti ikhtiar jangan berhenti yakin bahwa pasti sembuh. Beberapa items di atas memang ada yang mahal, tapi alam sudah menyediakan banyak juga alternatif bahan lain yang lebih murah. Semangat meraciknya! Jangan malas! Dan jangan lupa untuk minta sama yang Maha Menyembuhkan untuk mengangat penyakitnya. Insya Allah dengan ikhtiar dan positivity, semua bisa terlalui.. Bukan tidak mungkin karena sudah banyak success story nya. Ok?? SEMANGAT UNTUK KITA SEMUA!! Cheers!

Love,
B

PS: Baca perjalanan saya dan suami menghadapi kanker usus stadium 3 di post-post ini
- Cerita awal
- Setelah pulang dari Rumah Sakit
- Cara membantu pasien kanker
- Pengalaman kemoterapi
- Setelah selesai kemoterapi

Semoga bermanfaat ;)
Selengkapnya

Setelah Selesai Kemoterapi..

By sulthan on Monday, October 17, 2016



Setelah melalui 8 kali siklus kemoterapi, akhirnya pada hari ini saya & suami saya kontrol ke dr. Hamid di RSPAD Gatot Subroto. Setelah menulis pengalaman Kemoterapi Pertama & Kedua, tidak banyak yang bisa saya bagikan dalam blog ini lagi. Saya malah banyak menulis tentang dunia motherhood dan mompreneur. Jujur saja, the past 7 months was overwhelming, dan berbicara tentang kemoterapi selalu membuat hati saya nyiiitt sampai sekarang.. Jadi saya akan mengulas sedikit saja pengalaman kemoterapi 3-8 dalam post ini.

Efek kemoterapi siklus ke 3-8 memiliki kesamaan pola; seminggu pertama pasti tepar. Suami saya memiliki jadwal kemo setiap hari Senin, per 3 minggu siklus. Setelah hari H, dia akan mulai fit kembali pada hari Minggu berikutnya, karena Senin setelah kemo, dia pasti 'mabok'. Di minggu inilah perjuangannya benar-benar terasa, karena terkadang saya habis akal, kata-kata, dan tenaga untuk bisa membuatnya nyaman. Memijat, memberi makanan, memeluk, mendoakan, memberi kata-kata semangat seakan tidak ada gunanya pada masa ini. Dia hanya bisa terbaring lemah dan sesekali mengerang kesakitan saking dahsyatnya efek yang dirasakan, dan pada saat seperti itu saya harus tetap 'chin up', demi dia, dan anak kami Zeya yang baru berumur 2 tahun.

Efek lainnya adalah kesemutan di ujung-ujung jari tangan dan kaki dan tingginya sensitifitas pada benda dingin. Kedua hal ini juga berlangsung selama kurang lebih satu minggu. Kebayang kan gak nyamannya. Di kemo ke-5, suami saya juga sempat mengalami kendala; suster kesulitan menemukan pembuluh darah di tangan sehingga harus berkali-kali pindah tangan dan tusuk sana-sini. Memang, salah satu efek kemoterapi adalah pembuluh darah menjadi lebih tipis dan kecil. Akhirnya, menjelang kemoterapi ke-6, suami saya mulai aktif berolahraga lagi dan latihan ringan untuk jari-jari dan tangannya. Alhamdulillah kemo ke-6 sampai 8 lancar tanpa hambatan pembuluh darah.

Seminggu setelah kemo, barulah dia fit kembali. Walaupun demikian, kami masih harus disibukkan dengan jadwal kontrol dan tes darah rutin yang membuat dia harus bolak balik rumah sakit setiap minggunya. Syukur alhamdulillah, kantor suami memberi kelonggaran sehingga suami saya pun bisa mendapatkan ijin sakit selama menjalani proses kemoterapi ini. Jika tidak, saya benar-benar tidak bisa membayangkan dia harus menempuh perjalanan jauh dan bekerja long hours dengan kondisi stamina yang sedang 'digempur habis-habisan' oleh obat kemoterapi.

However, untuk ukuran orang yang sedang (dan baru saja selesai) menjalani kemoterapi, suami saya terbilang cukup fit. Berat badannya malah naik pasca operasi Februari 2016 lalu, rambutnya tidak ada sedikitpun yang rontok, dan kulitnya tidak menghitam gosong (hanya muncul beberapa spot kecil di ujung-ujung jari). Pokoknya, tetep ganteng deh. Hehe.. Banyak orang bertanya "how come?".

Suami saya 3 hari pasca kemo ke-8. Masih berusaha ceria bermain dengan Zeya walaupun lagi mabok-maboknya. PS: look at those hair!

Ada beberapa jawaban untuk pertanyaan tersebut. Pertama, tentu saja karena izin Allah SWT. Kedua, menurut dokter bedah digestive yang menangani suami saya, obat kemoterapi itu ada rumusnya, jenis tumor itu ada rumusnya. Jika obat yang diberikan tidak sesuai dengan rumus tumornya dan tidak tepat sasaran baik dari segi jenis obat maupun dosis, kemoterapi bisa menjadi racun, namun jika tepat, efek buruknya bisa minim sekali. Alhamdulillah sekali lagi karena kami mendapatkan dokter yang super detail, teliti, dan tidak ragu untuk berbagi informasi dengan pasiennya. Ketiga, bisa jadi karena selama menjalani kemoterapi, suami saya digempur oleh air kangen dan berbagai suplemen, serta jamu yang akan saya tulis reviewnya di post terpisah nanti. Terakhir, dan yang paling penting; is because he is the bravest man I knew. Dia selalu bersemangat dan sabar dalam menjalani setiap prosesnya dan dia mau untuk ikhtiar bersama, termasuk meminum aneka jamu dan suplemen yang kadang rasanya gak karu-karuan.

Aneka minuman yang saya siapkan untuk suami saya setiap pagi dan malam.

And at the end, here we are. Standing at this point to be finally be able to say "WE MADE IT!"

Setiap pernikahan memiliki tantangannya masing-masing, dan untuk kami berdua, sakitnya suami ini merupakan tantangan terbesar dan terberat selama hampir 5 tahun pernikahan kami. Walaupun demikian saya sangat bersyukur karena diberikan pengalaman ini oleh Allah, because I learned so much from this experience. Saya diberikan kesempatan untuk bisa kembali meninjau tujuan hidup saya, prioritas saya, connecting with people who really care to us, and most importantly, belajar bahwa "what's essential is invisible to the eye". Suami saya adalah pria tersabar yang pernah saya kenal, and I'm so proud of him.

So today, is the end and at the same time, another new beginning for us. Setelah kemoterapi selesai, kami masih harus menjalani tes darah dan kontrol rutin setiap 3 bulan, USG abdomen dan rontgen setiap 6 bulan, dan CT Scan dan kolonoskopi setiap tahun selama 2 tahun pertama. Perjuangan belum berakhir, but for now, let's celebrate this new milestone and be ready for whatever comes in our way. Percaya bahwa Allah selalu ada untuk makhluk-Nya. Ganbatte! :)
Selengkapnya

Pengalamam Kemoterapi Pertama & Ke Dua

By sulthan on Wednesday, May 11, 2016



Seperti yang sudah saya ceritakan di post ini, suami saya yang sehat, tidak merokok, tidak minum alkohol, dan rutin olahraga tiba-tiba divonis kanker usus stadium 3 di usia 28 tahun. Sekarang setelah melalui operasi besar yang berlangsung selama 4 jam dan menunggu pemulihan selama kurang lebih satu bulan, suami saya pun akhirnya menjalani kemoterapinya yang pertama pada tanggal 18 April 2016 yang lalu. Tiga minggu kemudian, tepatnya tanggal 9 Mei 2016 kemarin dia menjalani kemoterapi yang ke dua. Dalam post kali ini saya ingin berbagi pengalaman kemoterapi berdasarkan apa yang saya dengar dan lihat dari suami saya.

Banyak alasan mengapa saya tidak langsung membuat post setelah kemoterapi pertama selesai. Well, kalau boleh curhat sedikit, that was quite a rough time for us. Selain harus beradaptasi dengan kehidupan pasca-kemo, balita saya kena flu singapur (hand, mouth, and foot disease) yang memang lagi hot di Indonesia, setelah dia sembuh, lanjut saya yang kena tipes. Semua itu dibumbui dengan drama belum adanya ART di rumah sehingga tangan saya benar-benar 'penuh'. Bersyukur sekali pada kemoterapi yang ke dua kemarin keadaan sudah semakin baik, kami semua sehat dan sudah ada ART akhirnya.. (yay! Welcome Teteh..)

Okay, first thing first. Pertanyaan yang paling sering diajukan pada saya dan suami adalah "seperti apa sih kemoterapi itu?". Banyak orang membayangkan kemoterapi sebagai hal yang super seraaam.. Seperti misalnya diikat di kursi besar di tengah ruangan dan ditembak laser dari sana sini hahaha (wong namanya aja chemo-therapy. Terapi kimia. Pastinya paske obat lah ya. Wkwkwk..), atau disuntikin obat sampai kejang-kejang. Hahaha.. Enggak lah. Kalau untuk suami saya, simple nya sih diinfus dan minum obat. Itu saja. Setiap 3 minggu sekali, suami saya harus datang ke rumah sakit untuk diinfus (selama kurang lebih 3 jam). Obat kemonya disuntikkan ke dalam infus. Lalu setelah itu, dia juga harus minum obat selama 2 minggu. Jadi ada waktu 1 minggu dimana dia drugs free (dan 'sober'. Haha) so we can do lots of things together! Yay! 2x24 jam setelah kemoterapi, saya dan Zey harus jauh-jauh dulu dari dia karena obatnya memang keras. Jadi kami pisah kamar tidur dan kamar mandi. Kontak-kontakan pun via whatsapp walau serumah. Alhamdulillah berasa pacaran lagi, kangen-kangenan lagi. Hehehe.. Selain itu selama 2x24 jam itu juga setiap suami saya selesai menggunakan toilet, HARUS disiram oleh air detergen dan dibilas super banyak. Sounds dramatic, tapi tenang.. cuma 2 hari aja kok. ^^

Lalu apa efeknya? Di kemoterapi yang pertama, karena suami saya masih nervous dan kita juga belum take it easy, efeknya terasa cukup berat. Dia betul-betul seperti orang hamil muda untuk seminggu penuh! Mual, muntah, begah, pusing, lemas, dan cegukan sering bangeeeetttt sampai tidak bisa apa-apa dan bed rest seharian. Kebayang kan kondisinya waktu itu. Suami bedrest, saya bedrest, Zey perlu diasuh, gak ada ART. Untung ada adik dan mertua saya yang langsung datang membantu. Kalau tidak, entah apa jadinya kami. *wiping tears. Setelah seminggu, keadaan mulai berangsur membaik. We found out that distractions and doing fun things were good to eliminate those nauseous feeling. Saya suruh suami main PS banyak-banyak dan bertemu teman-temannya. Ok 1 done, 7 more..

Selama menunggu kemo ke dua, kami melakukan aktivitas seperti biasa dan sesuai saran dokter, makanan pun tidak ada yang dipantang. Hanya saja karena kami baca-baca sendiri, kami jadi membatasi beberapa makanan seperti daging merah dan gula. Syukur alhamdulillah juga kami mempunyai teman-teman dan keluarga yang sangat peduli pada kami. Seperti yang sudah saya tulis di post "bagaimana cara membantu pasien kanker dan keluarganya" kami menerima banyak hadiah termasuk suplemen-suplemen makanan super keren. Beberapa diantaranya adalah Celergen dan ekstrak jamur Maitake yang harganya pun tidak murah. Sepertinya sih pola makan dan suplemen-suplemen tersebut cukup berpengaruh pada stamina suami saya. Berat badannya sempat hilang hampir 16 kg sejak setahun terakhir, namun sekarang berangsur-angsur naik lagi.

Fast forward! Tiga minggu kemudian, suami saya pun menjalani kemoterapi ke dua. Prosedurnya sama dengan kemoterapi yang pertama hanya saja after effect nya cukup berbeda. Jika pada kemoterapi pertama dia bagaikan ibu muda, di kemo ke dua ini rasa mual dan pusing tidak terlalu parah walaupun tetap ada. Selain itu, perutnya sangat kembung dan jadi mudah masuk angin, sehingga saya harus nambah profesi lagi jadi tukang pijet untuk mengeluarkan angin-anginnya. Hehehe.. Efek lainnya yang dirasa adalah ujung-ujung jari yang terasa sensitif seperti kesemutan jika memegang benda yang dingin. Alhasil, tinggal di Bekasi saja dia harus mandi air hangat dan mengupas jeruk dari kulkas saja tidak bisa. Efek ini sama seperti yang diceritakan teman kami sesama cancer fighter, Tanaya dalam blognya Bersahabat dengan Kanker. Sampai saat saya menulis blog ini sudah hari ke 3 sejak kemoterapi ke dua dan suami saya belum kembali pada dirinya yang dulu (kaya judul lagu. Wkwkw). 2 done, 6 more..

Harus saya akui hari-hari setelah kemoterapi cukup berat, namun saya dan suami sangat bersemangat untuk menyelesaikan semua siklus nya dan mudah-mudahan kembali ke kehidupan kami yang dulu, drugs free life. Aamiin.. Harus saya akui pula bahwa saya bangga pada suami saya karena dia tidak mau dianggap sakit dan masih semangat menjalani hari-harinya, walaupun kalau untuk ngantor sepertinya masih belum memungkinkan. Ok darling! 6 more and oh let's just do it! Dan untuk teman-teman sesama cancer fighter di luar sana, terus semangat dan jangan pernah berhenti berharap dan keep positive ya! We can do it! Fighting! ^^

PS: tidak perlu minta izin, jika artikel ini dirasa bermanfaat, silakan share. :)
Selengkapnya

"what is internet in hindi" || internet kya hai (in hindi)

What is internet in hindi ||history of internet in hindi "What is internet in hindi", today we all are trying to know about what i...