Showing posts with label Pernikahan. Show all posts
Showing posts with label Pernikahan. Show all posts

Hospital Discharge. To be Finally Home

By sulthan on Thursday, March 10, 2016



Senin, 7 Maret 2016 merupakan hari yang sangat melelahkan tapi juga membahagiakan bagi saya. Bagaimana tidak, setelah pada akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke Bandung sebentar untuk syuting liputan NyoNya Nursing Wear bersama NET TV, pada hari yang sama juga suami saya dibolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Yay!

Proses recovery pasca operasi pengangkatan kanker usus besar suami saya memang terbilang cukup cepat. Hanya dalam satu minggu setelah operasi, dia sudah bisa jalan dan pulang ke rumah.

OOT sebentar, NyoNya Nursing Wear dijadwalkan untuk diliput oleh NET TV pada hari Senin tersebut. Pada awalnya saya tidak mengira bahwa suami saya boleh pulang secepat itu, dan karena kegiatan peliputan ini merupakan salah satu langkah besar dalam milestone bisnis baju menyusui yang saya geluti selama ini, saya pun nekat pulang ke Bandung pada hari Minggu nya dan kembali ke Jakarta Senin malam. Selesai syuting, hati saya gak karuan antara senang karena suami sudah boleh pulang, tapi juga sedih karena saya tidak bisa menjemput dan membantu orang tua kami beres-beres.

But anyway, yang paling penting sekarang adalah we are all home safe and soundly, happy and grateful. Sambil masih menunggu hasil patologi anatomi tumor, kami pun membangun 'dinding pertahanan' alias menguatkan sistem imun suami saya. Berbagai makanan anti-kanker menghiasi menu diet harian suami saya. Saya harap, tubuh suami saya bisa tetap kuat untuk menghadapi kemoterapi nanti.

Melalui post ini saya juga ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman dan keluarga semua yang sudah memberikan dukungan dalam bentuk apapun. Mulai dari supply air kangen, air zamzam, buah-buahan, dan makanan untuk 'penunggu rumah sakit', essential oil frankincense, sampai pinjaman PS4 untuk menghibur suami saya. Terima kasih juga kepada sahabat-sahabat saya yang sudah bersedia datang dan jadi penampungan curhatan saya. (Mama here needs to be entertained too. Wkwk..) And above all.. Terima kasih saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berkumpul bersama kembali, merasakan lagi betapa nikmatnya shalat berjamaah di-imami oleh suami tercinta..

Perjalanan masih panjang. Bismillah for everything.. :)
Selengkapnya

Chin Up! C'est la vie!

By sulthan on Friday, March 4, 2016



Setelah berada kurang lebih sebulan di Indonesia untuk mengurus NyoNya dan menghadiri acara NNW 2nd Anniversary Lunch, saya dan Zey pun dijadwalkan untuk pulang ke Korea pada tanggal 19 Februari 2016 yang lalu. Tapi ternyata Allah Maha Asyik, suami saya mendapatkan tugas dinas ke Indonesia pada tanggal 23-25 Februari, alhasil flight saya dan Zey diundur menjadi tanggal 28 Februari.

It's all seemed so perfect until 2 weeks before our flight, suami saya mengeluh sakit perut seperti ditusuk, meriang namun tidak demam, dan BAB berdarah. Saya ingat pada tahun 2014 yang lalu dia pernah didiagnosa wasir, dan pada bulan Desember 2015 dia mengalami gejala serupa juga. Karena adanya riwayat wasir tersebut, suami saya yang cukup sehat sehingga jarang ke dokter, menolak untuk dibawa ke dokter. However, karena range dari Desember-Februari cukup dekat dan saya sedang berada di Indonesia, saya sarankan suami saya untuk periksa ke dokter.

Akhirnya, periksa lah suami saya ke dokter gastro di Soon Chun Hyang University Hospital Seoul. Mendengar penjelasan suami saya, dokter langsung menyuruh dia untuk segera kolonoskopi. Hasil kolonoskopi keluar seminggu kemudian dan selama itu dia masih aktif bekerja seperti biasa, malah load kerjaan lebih dari biasanya karena kebetulan kantor suami sedang sibuk luar biasa.

Satu minggu berlalu, suami saya pun kembali ke rumah sakit dan hasilnya ternyata sangat mengejutkan! Setelah dilakukan kolonoskopi dan biopsi sample, suami saya didiagnosa terkena kanker usus besar (colon cancer). Suami saya shock, saya yang mendengar via telepon shock bukan main, dokter pun shock berat karena suami saya baru berusia 27 tahun, tidak merokok, tidak minum alkohol. HOW COME??!! Dokter di Korea menyarankan untuk segera dilakukan pemeriksaan menyeluruh, dan pada akhirnya karena dia akan tugas ke Indonesia, kami memutuskan bahwa check up lebih lanjut akan dilakukan di Indonesia.

Flight suami pun dipercepat menjadi tanggal 20 Februari. Hari Seninnya, kami langsung mengunjungi poli bedah di RSPAD Gatot Subroto Jakarta (alasan pemilihan RS ini adalah karena fasilitas dan alat-nya sudah banyak diupgrade waktu jaman Pak SBY dulu, dan kami juga ada kerabat yang merekomendasikan RS ini). Hasil check up dan konsultasi dengan dokter bedah digestif di RSPAD mengkonfirmasi diagnosa dokter Korea, bahwa memang ada kanker pada usus besar suami saya. Namun, untuk mengetahui sudah sejauh mana penyebarannya, perlu dilakukan CT scan.

Alhamdulillah jalannya dimudahkan oleh Allah Sang Maha Pembuka Jalan. Kami mendapatkan jadwal CT Scan hari kamis nya. Setelah melakukan CT Scan, diketahui lah bahwa kanker suami saya sudah mencapai stadium 3B. Hari itu juga suami saya masuk opname dan dijadwalkan untuk operasi pada hari Senin minggu depannya.

Dua malam pertama sejak mengetahui berita tersebut dipenuhi oleh air mata. Apalagi pada saat itu posisinya suami saya masih di Korea. "What should I do?" memenuhi otak saya. Tapi saya sadar, saya tidak boleh terjebak emosi negatif karena suami membutuhkan dukungan saya. Jadi instead of energi nya dihabiskan untuk menangis, mencari kambing hitam, atau marah, saya fokuskan untuk berdoa dan mencari kisah-kisah sukses orang yang sembuh dari kanker. Selanjutnya, saya langsung menyuruh dia untuk STOP makan nasi, daging merah, dan dairy products (susu, keju, dan sebangsanya). He was raw vegan sampai hari operasi tiba. Saya juga mengganti air minum nya dengan Kangen Water dan air Zam-Zam.

Support system pun dibentuk. Karena Zey masih menyusu dan sangat time-energy consuming untuk bolak balik Jatiwarna-Senen setiap hari, saya pun menyewa apartment Mitra Oasis tepat di depan RSPAD supaya saya bisa tek tok antara suami dan Zey. Ibu dan adik saya dari Bandung pun diboyong untuk membantu mengasuh Zeya. Mama mertua pun cuti panjang demi untuk menunggui anaknya.

Hari operasi pun tiba. Berjuta doa saya panjatkan untuk suami tercinta. Saya mengantarnya sampai ruang tunggu operasi. Kami bahkan sempat bercanda sebelum masuk ruangan. That was my goal indeed.. Untuk tidak terlihat stress di depan dia karena semangat adalah faktor nomor 1 untuk kesembuhan pasien kanker. Operasi berlangsung lama, 4 jam. Tapi berkat rahmat Allah SWT melalui tangan dr. A. Hamid dan tim nya, operasi pengangkatan kanker usus suami saya berjalan lancar.

Proses recovery pun berjalan dengan sangat memuaskan. Di hari ke-3 pasca operasi, semua selang (lambung, catheter, oksigen) sudah dilepas. Sudah bisa minum dan sedikit-sedikit belajar jalan. Lukanya pun sudah hampir kering. Saya sangat terharu dan bangga melihat semangat dia untuk segera sembuh.

Sekarang, perjuangan selanjutnya masih harus dilakukan. Setelah hasil patologi anatomi terhadap tumor dilakukan, kami harus menghadapi kemoterapi. Tapi itu adalah cerita lain.. Untuk sekarang, saya sangat bersyukur karena kami dipercaya untuk "mengemban" ujian ini, diingatkan untuk lebih dekat dengan-Nya, dan dimudahkan dalam proses treatment nya.

And at the end.. All I have to do is to chin up! C'est La Vie! Ada senang ada susah.. Ada naik ada turun.. Ada sehat ada sakit.. Yang jelas, Saya harus tetap kuat untuk suami dan Zeya tercinta.. SEMANGAT! ^^
Selengkapnya

Tentang Mau/Gak Mau Diajak Hidup Susah

By sulthan on Tuesday, September 29, 2015





Eeerrr..
Tiba-tiba gambar ini muncul di social media dan langsung menuai jempol dan 'love' dari para wanita. Komen-komen menyambut 'equality' ini pun ramai menghiasi post tersebut. Well.. It is true.. Siapa sih yang mau hidup susah? I'm a woman too, I love pretty things. I love being pampered. But ridiculously I die a little when I read this words. Why??

Well.. Mungkin karena pertama, standar susah dan senang setiap orang berbeda. Some people akan bahagia hanya dengan hal-hal kecil, tapi beberapa mungkin lebih sulit untuk menjadi bahagia. Tapi bagaimanapun, hidup senang itu tidak akan bisa kamu dapatkan jika kamu tidak bisa 'berdamai' dengan diri sendiri. Tidak ada satu orang pun yang bertanggung jawab atas kebahagiaan kita, kecuali kita sendiri. Bahkan tidak orang tua kita, tidak adik kita, tidak suami kita. Jadi, selama kita belum bisa berbahagia & bersyukur dengan diri sendiri, mau se-perfect apapun orang di sekitar kita (baca: suami), kita akan selalu bisa mencari celah untuk membuat diri kita tidak nyaman/bahagia bersama dia.

Pernah dengar quote nya Shakespeare "expectation is the root of all heartache"? I think that's totally true. Apa sebenarnya tujuan menikah? Untuk bahagia? Tentunya.. Tapi sekali lagi, apakah kebahagiaan itu lantas mutlak menjadi tanggung jawab suami kita sepenuhnya? Well, ladies.. Jika kita menikah dan berharap suami kamu akan begini begitu bla bla bla.. Kita akan ended up kecewa. Pernikahan bukanlah akhir dari kisah cinta seseorang, itu adalah awalnya. Awal dari semua perjuangan bersama suami-istri. Mau ngarep? Berharaplah setinggi-tingginya sama Yang Maha Kuasa, jangan sama makhluk-Nya yang jelas-jelas pasti penuh dengan kekurangan. Terlebih lagi, just see.. Jika kamu masih bisa membaca tulisan saya sekarang, artinya kamu masih punya akses terhadap internet, handphone, laptop, dan sebagainya. Masih banyak orang yang untuk makan sehari-hari aja suah. So tell me again, apa sih hidup susah?

Kedua.. I think it's funny untuk menyatakan bahwa semua pekerjaan rumah tangga (memasak, mencuci, beres-beres) itu adalah pekerjaan 'rendahan' sehingga jika seorang istri mengerjakan itu semua sendiri hidupnya bisa digolongkan menjadi hidup susah & tidak layak. LOL! Let me tell you something. Memasak, membersihkan rumah, mencuci adalah BASIC LIFE SKILLS yang sebaiknya memang dimiliki oleh semua orang mau itu laki-laki maupun perempuan. Jika kita lihat bagaimana orang di negara maju tinggal, let's say Australia atau Korea (karena saya pernah tinggal disana), mereka tidak punya ART tapi hidup mereka lancar-lancar saja tuh. Bahkan jika dibandingkan dengan pendapatan orang Indonesia kan pendapatan di luar negeri jauh berkali-kali lipat, tapi mereka masih bisa mengurus diri sendiri. Ditambah, di gambar itu dikatakan bahwa tidak sedikit perempuan yang mengejar pendidikan demi menghindari hal tersebut (memasak, mencuci, dan lain-lain). Lagi-lagi HA HA HA.. Andai saja si penulis tahu bagaimana kehidupan para pelajar rantau, yang jauh-jauh menimba ilmu sampai ke luar negeri, semuanya juga mengerjakan itu semua sendiri. Tidak ada yang menganggap kita not cool atau ndeso jika kita memasak dan nguplek dapur, because that's just simply what people do to keep alive. Bersyukur alhamdulillah di Indonesia kita masih bisa punya asisten, tapi menurut saya basic life skills ini tetap harus kita kuasai. Disini, saya dan suami bersama-sama berbagi tugas untuk memastikan urusan rumah dan Zeya tetap tertangani. I think that's equality (bukan sekedar 'gue ga mau ngerjain ini. Titik').

Ketiga.. Saya adalah anak perempuan yang dirawat baik-baik, dijaga, dan disekolahkan tinggi oleh orang tua saya, tapi apakah itu lantas membuat saya menyandarkan kebahagiaan saya sepenuhnya pada suami saya? Tidak, karena saya percaya, ada pengorbanan yang dilakukan ibu dan ayah saya untuk bisa merawat dan mendidik saya sampai sekarang. Dibalik saya yang sekarang, ada 'hidup susah' nya orang tua saya. Mungkin ada capeknya ibu saya mengurus rumah, deg-degan nya ibu saya menunggu ayah pulang dinas luar kota, dan kesusahan lainnya yang dialami ibu saya demi kelancaran mendidik dan merawat anak perempuannya. Jadi kenapa saya harus takut untuk 'hidup susah'? Saya ingin Zeya nantinya tumbuh menjadi anak yang mandiri, pekerja keras, dan menghargai pentingnya proses. Tidak ada salahnya saya mencontohkan itu kan? Seperti layaknya ibu saya mencontohkannya pada saya dulu.

Keempat.. Ini pertanyaan besarnya sih. Jika memang hanya ingin hidup senang, lantas apa kabar dengan 'for better for worse' dalam pernikahan? Sudahlah para wanitah! Daripada kita pusing-pusing berharap tinggi untuk disenangkan oleh suami, lebih baik kita fokus untuk menjadi istri dan ibu terbaik bagi keluarga. Percaya sajalah dengan kemampuan diri kita. We are women, and it runs in our DNA. Bagaimanapun, suami adalah cerminan istri karena pernikahan adalah interaksi dua arah. Jika istri do the best, saya yakin suami juga akan do the best. Contoh kasusnya; karena suami saya tahu saya akan mengurus rumah tangga sendiri dan banyak memasak, dia memilihkan apartment yang sangat layak dan baik untuk saya. Padahal saya gak minta!

Kelima.. laki-laki itu tanggung jawabnya bukan hanya kepada istri dan anaknya. Tapi juga kepada ibunya, adik perempuannya dan saya tau tidak sedikit pria yang masih harus menanggung beban keluarga yang cukup berat bahkan setelah menikah. Keadaan seperti itu mungkin akan sedikit membuat istrinya 'hidup susah'. Tapi lagi-lagi, memangnya akan sesusah apa sih? Unless you marry a criminal, saya yakin sesusah-susahnya pun seorang suami tidak akan sampai membiarkan istrinya kelaparan.

Terakhir, mungkin saya aja yang 'bego' sih mau diajak 'susah'. Hahaha.. Yang jelas sampai 3 tahun pernikahan saya dan suami tinggal di kost-kostan di Jakarta (sempat yang tanpa AC), lebih sering LDR, harus banyak menabung, bahkan sampai sekarang tinggal di Seoul pun saya harus mengurus bayi sendiri dan jadi babu di rumah saya sendiri. Tapi saya happy saja sih dan tetap menganggap suami saya pria paling baik sedunia. Ya sudahlah.. Saya yang aneh kali, dan saya sadar kalau pendapat saya ini belum tentu bisa diterima banyak orang. Mungkin kadar hormon testosterone saya lebih tinggi dibandingkan perempuan lain sehingga untuk hal seperti ini saya tidak bisa sepakat. Hehehe..

Peace, love, and gaul (90-an banget). :D

PS: tidak perlu minta izin, jika artikel ini dirasa bermanfaat, silakan share. :)
Selengkapnya

"what is internet in hindi" || internet kya hai (in hindi)

What is internet in hindi ||history of internet in hindi "What is internet in hindi", today we all are trying to know about what i...