Showing posts with label Green Living. Show all posts
Showing posts with label Green Living. Show all posts

Mengatur Sampah ala Korea

By sulthan on Saturday, September 5, 2015

Banyak yang beranggapan bahwa hidup di luar negeri serba enak dan seba mudah. Well, gak salah sih. Yang saya rasakan sendiri, setelah pernah tinggal di 2 kota (Sydney dan Seoul), bisa dibilang memang begitu. TAPI.. Kehidupan yang enak dan berkualitas itu juga tidak akan terwujud tanpa adanya partisipasi aktif dari warga kotanya sendiri. Contohnya dari segi sampah, kota akan terasa bersih dan nyaman jika warga disiplin menyimpan sampah pada tempatnya, dan sebagai salah satu Seoulista, saya pun dihadapkan pada situasi 'disiplin sampah' ini.

Di Korea, sampah dipisah bukan hanya dari segi organik dan anorganik atau kering dan basah, tapi.. BANYAK!! Pertama, di rumah saya harus memisahkan sampah ke dalam 3 kategori:

1. Sampah makanan
2. Sampah yang dapat didaur ulang (recycle)
3. Sampah lain-lain yang tidak masuk ke dalam 3 kategori tersebut (popok bekas, tissue bekas, cangkang kerang, dan lain-lain)

Sampah makanan dan sampah lain-lain harus dimasukkan ke dalam plastik khusus seperti di bawah ini. Di plastik tersebut tertera informasi mengenai wilayah sehingga akan mudah melacak sampah ini datang dari wilayah mana. Eits, tunggu dulu. Plastik ini gak gratis lho. Saya harus membelinya dulu di convenient store (mini market). Setiap bulannya saya harus merogoh kocek sekitar 10.000 won (sekitar Rp 120.000) untuk membeli plastik sampah ini.


Setelah memilah sampah menjadi 3 kategori tersebut, saya harus membawa sampah-sampah tersebut sendiri ke tempat sampah bersama yang ada di lantai basement apartment. Tempat sampah bersama ini terbagi menjadi beberapa ruangan.

Ruangan yang pertama merupakan tempat untuk menyimpan sampah besar seperti furniture. Di ruangan ini juga terdapat loker-loker untuk menyimpan sampah pakaian, lampu, dan batre. Seringkali barang yang dibuang masih bagus-bagus lho. Gatel rasanya pengen ambil (jiwa hagemaru. Wakakak). Untuk membuang sampah-sampah besar seperti furniture, kita lagi-lagi harus mengeluarkan uang. Bulan lalu saya baru saja membuang sofa karena sudah jebol dan lagi-lagi harus membayar 10.000 won.


Ruangan ke dua adalah ruangan khusus sampah makanan, sampah lain-lain, dan sampah kantong kresek. Sampah makanan dan kantong kresek dimasukkan ke dalam gentong yang telah disediakan, sedangkan plastik berisi sampah lain-lain ditumpuk rapi.


Ruangan ke tiga adalah ruangan sampah daur ulang. Nah, biasanya disininPR nya. Sampah daur ulang yang sudah kita pisahkan di rumah harus dipisahkan kembali ke dalam karung-karung dengan kategori berbeda:
- plastik pembungkus
- plastik botol
- kaca atau gelas
- sterofoam
- kertas
- kardus




Iya, itu suami saya yang sedang memilah sampah pakai jas. Hahaha.. Di sini biasa banget lihat yang cantik dan ganteng nenteng dan masuk ke tempat sampah. Semua orang punya tanggung jawab yang sama.

Saat tinggal di Indo, saya sudah terbiasa memilah sampah menjadi organik dan anorganik, dan setelah 'naik level' dalam hal pengelolaan sampah di Korea, saya pun merasakan beberapa manfaat:
1. Buang sampah jadi gak sering-sering. Tidak harus setiap hari membuang sampah karena terbagi jadi 3 bagian, sehingga tidak selalu penuh setiap hari. Memang ada resiko bau untuk sampah makanan, tapi bisa diantisipasi dengan menggunakan tempat sampah bertutup atau segera memasukkan sisa makanan ke dalam plastik, diikat rapat, dan dimasukkan ke dalam freezer sampai waktunya dibuang nanti.
2. Lebih bersih dan tidak jijik. Saya ingat sekali sewaktu saya kecil dan sampah di rumah kami masih di campur. Rasanya pemandangan ke tempat sampah tuh gak banget. Kertas, plastik, sisa makanan, dan lain-lain bercampur jadi satu. Eewwww...
3. Lebih aware tentang kegiatan konsumsi dan belanja pribadi, karena setelah diperhatikan sampah kering (anorganik) jauh lebih cepat terisi daripada sampah makanan. Gak heran kan kenapa di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Indonesia sampah bisa menggunung? Karena yang bisa cepat terurai jumlahnya kalah jauh dibanding yang tidak bisa atau sulit terurai. Hal ini membuat saya berpikir dua kali jika mau membeli makanan take away atau delivery.

Nah.. Itulah cerita saya tentang pengelolaan sampah rumah tangga di Seoul. Hmmm.. Kalau sistem seperti ini diterapkan di Indonesia, kira-kira pada mau gak ya untuk tertib menjalankannya? :)

Selengkapnya

Sustainable Gift Mengapa Tidak??

By sulthan on Monday, December 9, 2013

Christmas is approaching.. Dan biasanya waktunya tukar kado (eh betul kan?). Tapi, yang namanya memberi kado atau oleh-oleh tidak selalu harus pas natal saja kok. Ulang tahun, teman yang baru lahiran, pernikahan, pulang liburan, door prize, dan lain-lain. Siapa sih yang gak seneng dikasih kado atau oleh-oleh? ;)

Dibalik perannya sebagai penyambung silaturahmi, ternyata ada beberapa isu susainability di balik pemberian kado ini. Isu-isu tersebut diantaranya packaging atau wrapping yang berlebihan. Pernah saya dapat kado yang ukurannya kecil tapi dibungkus super besar dengan kertas berlapis-lapis. Selain hadiahnya yang super kecil, sisanya?? Sampah! Isu lain adalah terkadang kado yang diberikan tidak sesuai kebutuhan si penerima kado sehingga barang tersebut harus berakhir jadi gak berguna. Seperti pengalaman masa kecil saya, saat 17 Agustus-an, panitia nya selalu memberikan jam weker untuk hadiah lomba-lomba setiap tahunnya. Saya sendiri 5 bersaudara, katakanlah setiap anak menang 1 lomba setiap tahun, bayangkan berapa banyak jam weker yang kami punya waktu itu! Hahaha..

Nah lalu apa sih yang saya maksud dengan sustainable gift atau kado yang sustainable? Apa harus selalu kasih kado pohon atau yang berbau-bau green?? Oh tentu tidak.. Hehehe.. Ide dari sustainable gift adalah saat hadiah tersebut good for people as well as good for the planet. Artinya, kado tersebut tidak mendorong kerusakan lingkungan dan dapat bermanfaat atau meningkatkan kualitas hidup seseorang. Ada beberapa hal yang bisa dipertimbangkan saat memilih kado/oleh-oleh:

1. Consider Anything Homemade
Tidak harus membeli sesuatu, kalau kamu bisa membuatnya, kenapa tidak? Lagipula akan lebih berarti untuk si penerima hadiah kalau itu adalah buatan kamu sendiri, karena artinya kamu bener-bener niat untuk memberi hadiah sampai-sampai kamu put effort lebih untuk membuatnya sendiri. Plus dengan membuat sendiri kamu bisa add personal touch kayak inisial nama supaya lebih spesial! Kamu juga bisa memilih bahan-bahan yang ada di sekitar kamu. Be creative dan play with barang-barang bekas, bahan-bahan sisa, bahan makanan organik dari kebun sendiri, dll. Di bawah ini beberapa ide hadiah yang bisa kamu buat sendiri dengan mudah!

Kue Buatan Sendiri

Selai Buatan Sendiri

Celemek untuk Ayah dari Kain Sisa

Beberapa situs untuk ide homemade gift:
@SunScholars Pinterest
IHeartNapTime
Realsimple 
Ruffles and Stuff
Trendhunter DIY Furniture
Ana White DIY Furniture
Everythingetsy 101 Handmade Gift for Men

2. Reused or Recycled Items
Memberi barang yang sudah didaur ulang atau barang bekas gak seburuk itu kok! :D Kamu bisa beli sepeda, buku, atau mainan bekas untuk anak-anak. Furniture bekas (yang dengan sedikit sentuhan kreatif bisa jadi oke) untuk mendekorasi rumah, tas designer secondhand untuk istri tercinta (jangan salah, walaupun secondhand, biasanya masih mulusss dan harganya juga rata-rata di atas 5jt rupiah lho). Jangan ragu untuk mengubek garage sale atau website jualan sharing kayak tokobagus.com.


3. Anything Locally Produced
Segala sesuatu yang diproduksi secara lokal di daerah terkait bisa dikategorikan sebagai sustainable gift. Kenapa? Karena tidak butuh waktu dan energi yang banyak untuk transportasi nya sehingga mengurangi carbon footprint dan emisi gas rumah kaca nya. Beli nanas Subang kalau pulang dari Subang, baju-baju distro produksi anak Bandung, atau bahkan barang-barang produksi dalam negeri juga bisa dihitung. :)

4. Bibit Tanaman
 Bibit tanaman juga bisa jadi pilihan hadiah yang kreatif, beda, dan sustainable. Bisa tanaman indoor yang menyerap banyak racun seperti Areca Palm atau Chinese Evergreen (baca lengkapnya disini) Ataupun tanaman buah-buahan atau sayur-sayuran supaya bisa dipanen oleh si empunya rumah. Grow local eat local. Bagaimanapun, memberikan tanaman memberikan pesan yang jelas tentang go green dan self sufficiency.


Herb Pot atau tanaman rempah dalam pot juga bisa disimpan di dapur sebagai hiasan, 
juga bisa langsung dipetik untuk tambahan bumbu memasak

5. Sustainable Appliances
Bisa juga memberi hadiah home appliances atau perabotan rumah yang bisa meningkatkan sustainability practices di rumah si penerima kado. Contohnya, water filter supaya gak usah beli air galon, alat penghemat listrik, gentong air untuk menampung air hujan (rainwater tank), satu set lampu hias LED, dll.



6. Organic Cosmetics or Food
Saat ini sudah banyak pilihan kosmetik atau produk spa yang diproduksi secara local atau organic. Hal ini bisa jadi pilihan yang lebih ramah lingkungan karena produk degan bahan organik tidak mencemari lingkungan setinggi produk yang mengandung 100% bahan kimia. Selain kosmetik, makanan organik bebas pengawet juga bisa dipertimbangkan. Buat yang tinggal di Jakarta, produk organik bisa dibeli di gerai-gerai berikut. Untuk yang tinggal di luar Jakarta, makanan organik bisa diakses dari petani lokal sekitar yang langsung menjajakan dagangannya kayak misalnya di daerah Lembang atau Pangalengan kalau di Bandung.





7. Gift Card
 Kalo bingung-bingung banget mau kasih kado apa, bisa juga kasih gift card. Sekarang ini department store besar kayak Debenhams, Sogo, dll sudah menyediakan fasilitas ini. Selain simple, hal ini juga bisa menghindari 'salah kasih kado' untuk orang tersayang kita karena mereka bebas pilih apa yang mereka mau.



8. Charity/Donation
 Hadiah juga tidak selalu harus berwujud barang. Memberikan hadiah berupa kegiatan amal atau ibadah juga dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti. Membelikan jatah kurban atau zakat fitrah seseorang? Memberikan paket umroh, donasi ke panti asuhan atas nama si penerima hadiah, memberi donasi atau membeli merchandise dari LSM-LSM lokal Indonesia seperti Komunitas Sahabat Kota, WALHI, dll.

9. Less less less Packaging
Terakhir, pertimbangkan bungkus atau packagingnya. Ingat parcel berisi makanan yang suka dikirim saat hari raya? Apa yang tersisa setelah makanannya kita ambil? Buanyaaakk plastik pembungkus, buanyaaakkk selotip (yang juga plastik), dan keranjang yang kalo kebanyakan entah mau dipake apa. Nah, saat kamu memberi kado, boleh tuh dipikirkan packagingnya yang efisien, misalnya dengan menjadikan packaging sebagai bagian dari kadonya itu sendiri.


Parcel makanan bisa dimasukkan ke dalam container plastik dan diberi pita manis di tutupnya. Setelah makanannya habis, containernya bisa digunakan untuk menyimpan barang-barang lain. Kado yang berukuran besar seperti bed cover bisa dililit dengan pita manis dan gak usah dibungkus (kalo itu memang bed cover, orang sudah pasti bisa nebak kok dari bentuknya! hahaha). Kalaupun kamu harus membungkusnya, pilih kertas pembungkus yang dibuat dari kertas daur ulang atau kertas bekas, tidak terbuat dari plastik, dan bio-degradable.



So, what do you think? I think you can still make people happy and be kind to the planet at the same time. in other words, you can still be awesome by being sustainable. ;)

Selengkapnya

Yuk Jadi Responsible Tourist!

By sulthan on Thursday, April 18, 2013

Siapa suka travel cuuuungg!! *ngacung
Ngomong-ngomong window shopping termasuk travelling juga ga sih? *oke abaikan. Hehehe..

Nah, buat yang suka travel, tentunya sebagai turis kita ingin mendapatkan kepuasan yang maksimal selama berada di tempat wisata kan. Baik itu dari segi daya tarik wisatanya (keindahan alam, dll), pelayanan, keamanan, dan sebagainya. Oke, itu memang sudah menjadi kewajiban pengelola dan masyarakat di daerah wisata. Tapi bagaimanakah kita harus bersikap sebagai turis selama berada di daerah wisata?

Untuk menjaga suatu daerah agar tetap lestari, indah, dan dapat dinikmati untuk waktu yang lama, kali ini saya mau kasih beberapa tips supaya kita bisa jadi responsible tourist (turis yang bertanggung jawab):

1. Menyimpan sampah pada tempatnya.
Jangankan di tempat wisata, di kota sendiri aja kalau buang sampah sembarangan itu norak banget. Sebagai bangsa yang beradab, pastilah kita tau bagaimana menjaga lingkungan supaya tetap bersih. Kebersihan itu tanggung jawab bersama, bukan tanggung jawab dinas kebersihan saja.

2. Membawa kantong lipat atau plastik sendiri dan menolak kantong/kemasan plastik.
Salah satu kegiatan yang hampir pasti dilakukan di tempat wisata adalah belanja, tapi jangan sampai saat waktunya kamu packing pulang nanti, malah 'meninggalkan' banyak kantong bekas belanja di kamar hotel. Untuk menghindari hal tersebut, bawa kantong belanja sendiri. Jaman sekarang kan sudah banyak tuh yang bisa dilipat-lipat sampai kecil. Praktis!

3. Menghindari membeli suvenir yang berpotensi cepat rusak dan cepat jadi sampah.
Suvenir murah memang menggiurkan, apalagi jika kita berniat memberi oleh-oleh pada banyak orang. Tapi.. Jangan sampai nanti ujung-ujungnya suvenir kta cuma jadi 'sampah'. Pilih suvenir yang berkualitas bagus, dan kalau bisa sesuatu yang bisa dipakai. Contoh: instead of beli gantungan kunci murah bentuk boneka koala dengan kualitas jelek, mending beli gantungan kunci berbentuk gunting kuku. Lebih berguna.

4. Tetap tertib saat malam hari.
Daerah wisata itu bukan hanya untuk menservis wisatawan, tapi juga untuk tempat tinggal masyarakat sekitar, Jadi, terutama jika kamu liburan ke tempat yang dekat dengan permukiman penduduk, jaga noise level kamu setelah jam 10 malam.

5. Tidak merusak (termasuk mencoret-coret, memahat,) dan mengambil barang-barang dari tempat wisata.
Udah gak jaman kali ah corat coret tulisan "b!nt4n wuzZ h3Re" atau "Bintan-Tessal 4ever". Iyuuuwh.. So not cool! Bukan cuma di bangku sekolah aja, tapi termasuk di pohon, tembok, bebatuan, dll.. Selain itu, mengambil apa yang bukan milik kamu, dan merusak fasilitas tempat wisata juga sangat tidak beretika.


6. Menghargai adat, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal. Termasuk berpakaian sopan, tidak mabuk di tempat umum.
Lain padang lain belalang, lain lubuk, lain ikannya. Sebagai orang yang datang ke suatu tempat, kita harus berusaha menyesuaikan diri dengan adat istiadat di suatu daerah. Biasakan selalu berbicara dengan sopan, senyum, tidak berteriak-teriak, dan meminta izin jika ingin mengambil gambar/berfoto.

7. Tidak melanggar hukum. Hindari menggunakan calo atau tour guide yang tidak berlisensi.
Hukum bukan ada untuk dilanggar, tapi dipatuhi. Jika tidak ingin terjebak situasi yang tidak diinginkan (apalagi kalau pergi ke negara lain), jangan coba-coba deh melanggar hukum. Perhatikan selalu ketentuan yang ditetapkan suatu daerah/negara, termasuk speed limit, apa yang boleh/tidak boleh dibawa masuk/keluar, dll.

8. Jika memungkinkan, pilih hotel yang menerapkan prinsip sustainability.
Beberapa hotel sudah menerapkan prinsip sustainability, misalnya memberikan pilihan untuk tidak mencuci handuk dan mengganti seprei setiap hari demi mengurangi polusi greywater (air bekas cucian) ke lingkungan.

9. Jika harus membeli air kemasan, beli sekalian yang ukuran besar. Jika berliburan ke negara maju, bawa botol air minum sendiri.
Mungkin jika kita liburan di Indonesia atau negara berkembang lainnya, air keran tidak dapat diminum langsung sehingga seringkali kita terpaksa membeli air kemasan. Untuk menghindari sampah plastik, beli yang sekalian ukuran besar. Namun, jika kita pergi ke negara maju, botol air minum akan dapat dengan mudah diisi ulang di keran atau tap water (pancuran) yang disediakan di tempat umum.

10. Memilih moda transportasi yang lebih sustainable dibanding kendaraan bermotor.
Jalan-jalan akan lebih seru jika kita betul-betul berjalan kaki, atau menggunakan transportasi yang terbuka, misalnya becak, delman, sepeda. Selain itu, kita juga bisa mengurangi emisi gas rumah kaca ;)

 Gili Trawangan Island. Ga ada motor, apalagi mobil.. 
Semuanya pake sepeda, delman, atau jalan kaki. Seru banget!

Sekarang.. Siap untuk berpetualang? :)
Selengkapnya

Cerita tentang Air Kemasan

By sulthan on Thursday, February 7, 2013

Air dalam botol kemasan atau yang sering kita sebut dengan Aqua Botol sepertinya sudah jadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Mulai dari supermarket besar sampai pedagang asongan jual air botolan ini. Harganya? Yaaahh.. Gak mahal-mahal banget sih, paling Rp 3.000 rupiah per botolnya, yang merk gede kaya Ev*** tuh baru mahal! Bisa Rp 18.000 per botolnya. Eits! Tunggu dulu! Yakin gak mahal Rp 3.000 tuh?

Seperti yang kita ketahui, bumi kita 70% nya terdiri atas air, tapi cuma 3% dari air seluruh permukaan bumi ini yang berupa fresh water (air tawar) yang bisa diminum. Itu pun udah termasuk yang tercemar polusi (misal di sungai-sungai yang dijadikan tempat pembuangan limbah pabrik, atau tercemar sampah-sampah yang dibuang orang). Tapi walaupun demikian, sama hal nya dengan udara, air adalah hak asasi setiap manusia, jadi kita harus bisa mendapatkannya dengan mudah! Nah sekarang, kalau gtu, kenapa kita masih mau beli yang mahal kalau bisa dapet air minum (hampir) gratis?? Dengan membeli air kemasan, ibaratnya kita bayar 3.000 kali lipat dari yg seharusnya..

Oke, mungkin kurang jelas penjelasan saya, buat lebih jelasnya coba disimak video berikut ini. Video ini milik thestoryofstuffsproject yang saya beri subtitle bahasa Indonesia supaya lebih mudah dipahami. Untuk kepentingan pendidikan only lho ya.. hehehe



Nah, gimana? Sudah lebih kebayang kan tentang 'manufactured demand'? Kalau air aja bisa dijual sekarang, apa lagi yang bakal dijual nanti? Udara? Terus, botol-botol yang udah numpuk mau dikemanain? Kalau sekarang masih dibuang ke India, apa jadinya kalo India udah 'penuh'? Dibuang ke Indonesia? Ih! Sorry dorry morry.. Kita mau Indonesia yang bersih, sehat, dan bebas sampah menggunung. Makasih.

Terus, apa dong yang bisa kita lakuin? Secara instalasi air minum di negara kita belum memungkinkan buat air keran diminum langsung. Hmmm.. Tricky sih memang, tapi pasti selalu ada jalan! Saya yakin kamu semua pasti punya ide-ide (dan kalo punya jangan lupa dishare!), nah ini beberapa ide saya:

1. Biasakan selalu bawa botol air sendiri kemana-mana.
Ini si biru kesayangan saya yang udah buluk. Udah lebih dari satu setengah tahun saya pake, Alhamdulillah masih sehat wal afiat. Kamu bisa beli yg agak besar, atau yang pas di tas kamu. Isi dari rumah, nanti bisa diisi ulang di kantor atau kampus (kalau ada). Lumayan menghemat juga kan Rp 3.000 nya bisa buat beli gorengan. :p

Gambarnya butut, maklum dadakan. Hehe

2. Usahakan menyediakan filter air di rumah.
Nah kalau yang satu ini lebih untuk penghematan galon air minum sih. Tanpa bermaksud promosi ya, tapi saya pribadi pake dispenser filter air P**e I* and I Love it! Kenapa? Karena satu, gampang tinggal masukin air keran, trus gak berapa lama keluar deh air nya yang siap minum. Kedua, ramah lingkungan, sustainable, I like it! Ketiga, pengiritan! Hehehe.. Kalo yang biasanya saya bisa habiskan Rp 150.000 per bulan untuk beli air galon, sekarang saya mengeluarkan Rp 0! Hihi.. lumayankan Rp 150.000 nya bisa dipake jaga-jaga kalo ada yang SMS mama minta pulsa. Hehehe..

3. Kurangi konsumsi air botolan.
Yah oke, kalo belum bisa berhenti sama sekali, atau masih suka lupa bawa minum sendiri, seengganya kurangi konsumsinya dan kalo beli air kemasan (termasuk kalo minum aqua gelas di kondangan), habiskan sampe titik penghabisan. Karena kalau engga, double pemborosan: satu buang-buang air (mahal lho itu), kedua nambah-nambahin sampah plastik. Eeew..

4. Mengabdikan diri pada PDAM
Kedengerannya romantis kan. Hihiy.. Tapi beneran deh, Untuk ahli-ahli water management di luar sana, untuk adek-adek SMA yang mau kuliah, untuk para insinyur yang ngerti tentang hal ini, para ilmuwan, dan lain-lain.. Jangan ragu untuk mempelajari dan bekerja di bidang water and sanitation. Kalo merasa selama ini pelayanan yang kita terima belum memuaskan, jangan cuma bisa complain, let's do something about it! Bekerja di PDAM dan support mereka untuk lebih maju, lebih reliable, lebih bisa diandalkan. Daripada keburu diprivatisasi (apalagi sama perusahaan asing), ntr harga air tambah mahal. Mendingan orang-orang pinternya ikutan terjun untuk membenahi. :)

5. Pisahkan sampah botol air kemasan dengan sampah lain.
Atau satukan dengan sampah anorganik lainnya. Kenapa? Bisa jadi jalan amal juga untuk kita! Mamaku di rumah ngelakuin ini, niatnya bukan untuk sustainable, jaga lingkungan, blabla.. Tapi untuk bantu pemulung dan ngeringanin beban pemulung. Dengan memilah sampah, yang anorganik bisa dikasi langsung ke pemulung yg lewat depan rumah, mereka bisa langsung jual. Hmmm.. padahal saya udah semangan nulis status di facebook tentang mama saya sekarang milah sampah organin-anorganik, ternyata makna aslinya gak ngerti si mama. haha.. But anyway! Bener juga kan? Bantu orang lain, plus mempercepat proses pengelolaan sampah anorganik tsb juga karena mereka gak perlu jalan-jalan dulu ke Tempat Pembuangan Akhir.

6. Share video di atas ke banyak orang
Jadi kita bisa ngebuka mata lebih banyak orang dan menyelamatkan Indonesia dari gunungan botol air kemasan, yes??

Well.. well.. cukup sekian cuap-cuap malam ini. Semoga bermanfaat ya. And remember.. Keep sustain you, people!

xxxoooxoxox,
Tan
Selengkapnya

"what is internet in hindi" || internet kya hai (in hindi)

What is internet in hindi ||history of internet in hindi "What is internet in hindi", today we all are trying to know about what i...