Showing posts with label baju menyusui. Show all posts
Showing posts with label baju menyusui. Show all posts

Cerita Sukses Menyapih tanpa Drama

By sulthan on Saturday, September 24, 2016



Anyone who knows me and Zeya will agree; Zeya ratu nyonyon banget..! Di minggu-minggu pertamanya lahir ke dunia, dia pernah menyusu hingga 5 jam nonstop! Di usia 4 bulan, beratnya sudah 8kg. Semakin besar, frekuensi menyusunya tidak juga berkurang. Sampai usia 23 bulan saja dia masih bangun malam lebih dari 5x untuk menyusu. Sangat melelahkan, terutama karena saya masih harus bekerja mengurus NyoNya setelah Zeya tidur. Selama 'jam kerja' saya, saya harus bolak balik menyusui Zeya yang memang sering sekali terbangun. Memang sih, lama kelamaan saya terbiasa dan setelah absen ngeblog beberapa minggu, akhirnya jadi juga menulis post tentang Tips Mengatur Waktu untuk Mompreneur. Tapi kebayang kan jipernya saya menghadapi proses sapih.

Ternyata eh ternyata.. Hari ini, sepuluh hari setelah sapih, saya bisa berkata; alhamdulillah lancar jaya proses nya. Bebas drama. Kayanya ini achievement terbesar saya selama 2016. Bagi saya, melebihi achievement NyoNya yang bisa giving away 50 mio for charity. Haha..

Alright, back to the start. Di post kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang proses penyapihan ini. Perlu dicatat bahwa saya bukanlah orang yang percaya 100% sama teori, karena saya percaya bahwa anak juga manusia, bukan robot. Jadi tidak bisa semua teori parenting diterapkan sama ke semua anak, termasuk teori Weaning with Love (WwL). Jujur, penyapihan Zeya tidak full WwL karena masih melibatkan brotowali, tapi syukurlah kedua pihak (ibu dan bayi) tidak ada yang merasa disakiti atau drama berlebihan.

So, kenapa saya tidak memilih full WwL? Beberapa alasan; yang pertama karena saya termasuk yang percaya utk mengikuti anjuran dalam al Quran untuk menyusui sampai 2 tahun. Udah ada aturan dari yg Mencipta, pasti ada alasan di balik semuanya, dan salah satu teman saya memberi tahu saya bahwa setelah usia 2 tahun anak akan mulai mengenal nafsu & keinginan. That's why penyapihan di usia 2 tahun juga sebagai salah satu bentuk kontrol terhadap hal ini. However, saya belum menemukan artikel valid tentang pendapat ini, so it's up to you to believe or not..

Kedua, to be brutally honest, saya capek. Sebagai ibu yang mengurus anak balita, suami yang sedang chemotheraphy, dan anak balita yang masih menyusu, hari-hari saya selalu dilalui dengan kehectican. Alangkah nyamannya jika saya bisa tidur tanpa gangguan semalaman, demi merecharge tenaga supaya siap tempur lagi besok pagi nya.

Ketiga, melihat karakteristik Zeya yang Ratu Nyonyo, saya jadi berpikir "kalau WWL full, mau nunggu sampai kapan???" Wkwk.. Akhirnya saya memutuskan untuk menyapih Zeya tepat setelah dia berusia 2 tahun dan dengan menggunakan 'penghalang' brotowali, karena Zeya sensitif sekali dengan rasa pahit.

Jadi, untuk meminimalisir 'shock', 3 bulan sebelum sapih saya sudah countdown. Bilang kalau sesudah ulang tahun ke 2, Zeya tidak bisa nyonyo lagi, karena nyonyo sudah bukan untuk Zeya dan rasanya juga nanti jadi gak enak. Saya ulang-ulang terus perkataan itu sampai dia 'terbrain-wash' sampai-sampai kalau ditanya, "Zey, in three months?" dia akan menjawab "no nyonyo anymore!". Proses ini saya lakukan terus dan berulang-ulang terutama sebelum dia tidur.

Semakin mendekati hari sapih, sekitar satu bulan sebelumnya, bukannya berkurang, dia malah makin menjadi-jadi nyonyonya. Duh. Saya semakin pesimis apakah proses sapih nanti akan berjalan lancar atau tidak, tapi saya tetap keukeuh membrain wash dia soal kalau nyonyo itu untuk bayi. Saya juga menyelipkan poin ini di play time dia, misalnya saat kami bermain dokter-dokteran dan mendapat 'pasien balita', saya akan berkata "wah, kakaknya sudah besar ya.. Berani ke dokter, pasti sudah gak nyonyo". Seperti itulah..

Akhirnya, masa yang dinanti tiba juga. Zeya pun berulang tahun ke 2. Lho, tapi kok sekarang kebalik, malah saya nya yang galau gak karuan. Cemas apakah Zeya akan tersakiti atau tidak, apakah dia akan masih tetap dekat dengan saya, apakah saya akan masih bisa memeluknya, dan segelintir keraguan lain berkecamuk di pikiran dan hati saya. Sampai akhirnya, H+1 2 tahun, ibu saya memetikkan batang brotowali dan menyuruh saya untuk mengoleskannya pada puting. Ibu saya bilang bahwa untuk kebaikan anak, harus tega, harus keukeuh. Akhirnya saya meluruskan niat, dan dengan mengharap ridho Allah, saya oleskan brotowali tersebut.

Pagi hari sekitar jam 9, kami sedang menonton Shaun the Sheep di ruang tengah hingga akhirnya Zeya menggelendoti saya dan bilang "Mim, mau nyonyo." Saya mengingatkan dia "Zey, ingat lho Zeya sudah bukan bayi lagi, nyonyo kan untuk bayi. Gak enak lho.." Tapi dia ngotot sambil senyum-senyum tengil ngotot mau nyonyo. Dia bilang "coba aja, mim.." Ya sudah.. Baru menyentuhkan bibirnya ke PD saya, dia langsung menarik kepalanya/ Bengong lamaaaa dengan mulut terbuka, lalu heboh bilang "yuck! Nyonyonya gak enak. Mau minum!" Jauh di luar ekspektasi saya, dia tidak menangis sama sekali. Bahkan, setelah minum, dia malah tertawa kecil sambil bilang "ih, nyonyonya pait. Gak enak."

Setelah kejadian di pagi itu, akhirnya Zeya tidak mau menyusu, dia sendiri yang menolak. Saat malam tiba, saya deg-degan juga, gimana caranya Zeya bisa tidur padahal selama ini dia selalu menyusu sebelum tidur. Next thing I know, we lay on bed together reading books and prayers. Dia membolak balik buku cerita kesukaannya sampai bosan. Setelah itu dia berbaring dan bilang pada saya "Mim, nyonyo gak enak ya?" Saya menatap matanya, mengangguk pelan, dan tersenyum kecut. Is this the right thing to do? Saya bertanya dalam hati. Sekali lagi saya kuatkan diri saya. Dia pun lalu berkata lagi "Mim, pegang aja boleh?" saya pun mengiyakan. Akhirnya dia menempelkan pipinya ke dada saya, dan seiring dengan terpejamnya matanya, melambatnya nafasnya, Zeya pun terlelap ke alam mimpi. Air mata saya mengalir pelan. Menyapih anak berarti juga menyapih ibunya, dan momen ini menjadi sangat emosional bagi saya. Sambil mengecup tangan mungilnya, saya pun berdoa, mensyukuri apa yang sudah terjadi di hari itu. Bersyukur karena diberikan kesempatan untuk bisa full menyusui selama 2 tahun, bersyukur karena diberikan kemantapan hati untuk menyapih, dan bersyukur karena diberikan anak yang begitu manis. Tidak ada satu tangisan pun keluar dari bibir Zeya hari itu. Semuanya terjadi dengan begitu mudah. Alhamdulillah..

Tengah malam, seperti kebiasaannya di malam-malam sebelumnya, Zeya masih terbangun mencari nyonyo. Pada saat itu, yang saya lakukan hanya mengusap2 punggungnya pelan sambil berkata "Ssssttt.. Sayang, kan Zeya sudah besar, nyonyo buat bayi ya..". Dan dia berkata "oh iya" lalu kembali tidur.

Menjelang subuh, PD saya mulai bengkak, dan Zeya pun memang selalu kuat menyusu saat subuh. Oleh karena itu untuk menghindari shock pada PD, saya susui Zeya saat subuh itu. Tujuannya adalah supaya PD saya bisa menyesuaikan produksi air susunya tanpa perubahan yang drastis, dan dengan kondisi Zeya yang menyusu subuh (setengah sadar setengah tidur) membuat dia tidak ingat bahwa dia sudah menyusu dan keesokan harinya dia benar-benar tidak mau nyonyo. Rutinitas nyonyo subuh setengah sadar itu saya lakukan selama 3 malam. Setelah payudara dirasa tidak terlalu bengkak, saya pun akhirnya full memberhentikan nyonyo Zeya, termasuk saat subuh.

Hari pertama setelah full berhenti, PD saya mulai 'berbatu', namun saya siasati dengan kompres air hangat dan pijat. Saya juga sempatkan untuk mampir ke spa dan having a really nice full body massage. Surprisingly, posisi telungkup dengan punggung dipijat secara tidak langsung berefek ke PD juga. Setelah pijat, PD terasa lebih ringan. Alhasil, walaupun 'bebatuan' dan rasa tidak nyaman pada PD berlangsung sampai 2 mingguan, tapi saya tidak sempat merasakan meriang parah sampai mengganggu aktifitas saya, ataupun 'banjir ASI' seperti cerita-cerita orang tua saya dulu.

Sekarang, saya bisa say bye bye pada bra menyusui! Walaupun belum pada baju menyusui karena lemari saya penuh dengan NyoNya Nursing Wear dan MamiBelle. Haha..

So, itulah cerita saya menyapih anak pertama saya. Intinya, proses penyapihan dialami kedua belah pihak, menyapih anak sama dengan menyapih ibu. Maka dari itu selain menyiapkan mental anak, perlu juga untuk menyiapkan mental ibu. Selain itu, yakinkan diri dan percaya bahwa anak itu pintar, dia akan mengerti apa yang kita kataakan, jadi kalau kita terus encourage dia untuk "jadi besar", then she will. :)
Hope you all mommies out there have an easy and peaceful weaning process ya! See you on next post!

Best,
B
Selengkapnya

Refleksi 2015

By sulthan on Saturday, December 26, 2015

Floating lanterns bertuliskan harapan orang-orang di Cheonggyechon, Seoul (Desember 2015)


Rasanya baru kemarin saya dan tim NyoNya Nursing Wear makan-makan di akhir tahun 2015 dan tidak terasa sekarang 2016 sudah di depan mata. Huaaa.. Banyak sekali hal yang saya alami di tahun ini dengan BIG LEAP nya adalah kepindahan kami sekeluarga ke Korea Selatan. Mengikuti Abi nya Zey yang bekerja sebagai diplomat di kantor perwakilan BKPM di Seoul.

Hidup di negara lain saja sudah penuh tantangan. Hidup di negara lain dan tidak mengerti bahasanya? Double tantangan. Hidup di negara lain yang tidak mengerti bahasanya plus sambil mengurus balita super aktif dan bisnis jarak jauh? Millions tantangan! However, challenges are what keep us alive, right? Bukan hidup namanya jika tanpa tantangan, dan tantangan-tantangan itulah yang akhirnya mendewasakan saya dan (hopefully) membuat saya menjadi manusia yang lebih baik. Aamiin..

Maka dari itu, saudara-saudara.. Di penghujung tahun 2015 ini saya ingin sedikit berbagi refleksi diri. Someone once told me something like this:

"Hidup tuh harus punya prinsip. Pegang terus prinsip lo jangan mau dipengaruhi orang lain"
"Ya ini gue. Lo suka sukur, engga juga ga apa-apa"

And I was buy it before.. But then, semua exposure yang saya alami membuat saya sadar bahwa tidak semua hal tetap seperti sebelumnya. Termasuk prinsip dan paradigma saya, dan di post kali ini saya akan menerangkan pandangan apa saja yang berubah dari saya yang dulu ke saya yang sekarang.

Dulu saya berfikir bahwa saya tidak mau menjadi orang tua membosankan seperti orang tua saya dulu. Apa-apa dilarang. Ini gak boleh, itu gak boleh. Dan tbh itu malah membuat saya banyak sembunyi-sembunyi di belakang orang tua (oops. Hehe). Beberapa orang tua teman saya dulu membolehkan anak-anaknya pacaran, atau keluar malam saat belum cukup umur, atau merokok, and I was thinking that "That's sooooo cool!" Saya ingin jadi mama gaul saja yang tetap modis dan update dengan hal-hal berbau anak muda. Membebaskan anaknya melakukan apapun yang mereka mau, dan sebagainya. Tapi sekarang, setelah saya punya anak dan belajar tentang hakekat menjadi orang tua dan betapa besarnya amanah menjaga seorang anak di mata agama, juga setelah melihat betapa mudahnya informasi diakses bahkan oleh anak kecil pada masa sekarang, "Saya jadi ingin menjadi orang tua gaul, yang syar'i". Hehehe..

Karena seperti yang dikatakan di Al-Quran:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati (amanat) Allah dan Amanat Rasul,dan janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang diamanatkan kepada kalian, sedangkan kamu mengetahui”. (Q.S. al-Anfal/8:27)

Saya gak akan pernah siap kalau harus mempertanggung jawabkan tanpa mencoba semaksimal mungkin dulu. Jadi, instead of cuma jadi mama gaul saja, saya akan berusaha jadi mama gaul yang tetap memegang prinsip islami. Mendekatkan anak-anak dengan penciptanya tapi tetap mendidik mereka supaya open minded dan modern. Wish me luck! ;)

Next.. Dulu saya paling sebel kalau ada orang yang ngikutin saya. Entah itu dari cara berpakaian, gaya bahasa, dan lain-lain. Yah.. Sebagai anak pertama beradik 4, saya sudah puas banget sama yang namanya diikutin. Jadinya saya suka risih kalau ada orang niru-niru saya. Hehehe.. Tapi sekarang, I start to embrace that "Imitation is the highest form of flattery". Jadi tidak ada gunanya merasa risih, toh at the end everyone is unique and you can try as hard as you can to copy me but you will never be me. Terlebih lagi dengan posisi saya sekarang sebagai mompreneur dimana NyoNya Nursing Wear sebagai salah satu brand leader baju menyusui, munculnya followers adalah hal yang tidak bisa dihindari. Tapi bagaimanapun, it's a free country! Terlebih lagi saya selalu percaya bahwa apa yang membedakan kita para pengusaha dengan politikus adalah; para pengusaha bersaing untuk sama-sama menang, politikus bersaing untuk menjatuhkan satu sama lain. Jadi tidak ada gunanya merasa risih di-follow. Walaupun saya sempat heran juga karena ada salah satu 'teman' saya yang dulu waktu bisnis dia masih 'muda' banyak banget diskusi sama saya. Minta tukeran promosi di instagram, sharing booth pameran, diskusi tentang membentuk branding dengan adik saya, bahkan minta kontak vendor-vendor saya setelah berapa lama menghilang, tiba-tiba dia muncul dengan konsep bisnis dan produk yang sama dengan NNW. Oh well.. Tapi pada akhirnya saya tersanjung dan sangat bersyukur karena ternyata apa yang saya lakukan bisa menginspirasi orang lain and that at the end, creativity is something that you can share because not everyone having it. You're welcome. Hohoho..

Terakhir.. Dulu awal-awal Zey lahir saya keukeuh banget untuk menerapkan semua ilmu parenting yang saya dapatkan dan berasa gagal kalau hasilnya tidak sesuai. Contohnya, saya berusaha melatih Zeya untuk bisa tidur sendiri, tapi pada akhirnya saya sendiri yang pengen nimang-nimang dan nelonin dia. Selain itu, saya juga tidak bisa berhenti membanding-bandingkan Zeya dengan bayi lain. "Why oh why anak gue aktif banget sedangkan bayi lain bisa super anteng?" Tapi pada akhirnya, saya pun mulai percaya bahwa "Every child is unique and there is no right or wrong in parenting" as long as you 'read' your baby cues well enough, you can understand and fulfill her needs without have to be frustrated. Dan pada akhirnya, I find 'following my mother instinct' as the best parenting way. Meskipun tetep.. Parents.com dan babycenter masih jadi pegangan, tapi pada penerapannya saya mencoba lebih fleksibel dengan Zeya dan hal itu membuat saya menjadi lebih easy going dalam menjalani hari-hari saya sebagai full time mom untuk Zeya.

So.. That's all! Tiga refleksi diri utama saya di tahun 2015. Harapan saya semoga di tahun 2016 ini saya sekeluarga selalu diberi keceriaan dalam menjalani hari-hari kami di Seoul, dan NyoNya Nursing Wear lebih CETAR lagi supaya bisa membantu lebih banyak orang; para ibu menyusui untuk menyusui secara bebas di tempat umum, karyawan kami menafkahi keluarganya, adik-adik kami, dan lain-lain.

Good night good people! Have a nice holiday and happy welcoming 2016..

PS: tidak perlu minta izin, jika artikel ini dirasa bermanfaat, silakan share. :)
Selengkapnya

"what is internet in hindi" || internet kya hai (in hindi)

What is internet in hindi ||history of internet in hindi "What is internet in hindi", today we all are trying to know about what i...