Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Cerita Dunia: Dongeng Putri Duyung

By sulthan on Friday, July 1, 2016

Ini adalah sebuah dongeng yang sangat terkenal. Kisah di dongeng yang ditulis di sini tentu mengalami beberapa adaptasi. Hans Christian Andersen, seorang pengarang cerita dari Denmark mengarang dongeng ini dan menerbitkannya pada tahun 1937. Mungkin kamu pernah menonton film animasi dari Disney, dengan judul The Little Mermaid. Ya, Ariel adalah nama Putri Duyung dalam film tersebut. Sebenarnya H.C. Andersen tidak memberikan nama apapun pada tokoh Putri Duyungnya itu. Penasaran bagaimana ceritanya. Ayo dibaca sampai selesai ya.

***

Di kedalaman samudera yang luas, jauh dari jangkauan manusia, terdapat sebuah kerajaan laut. Di istana, Raja tinggal bersama 6 orang putri yang cantik. Mereka semua pandai menari dan menyanyi. Gerakan mereka indah dan lincah di dalam air. Mereka tidak mempunyai kaki seperti manusia, tetapi putri-putri cantik itu memiliki ekor seperti ikan lengkap dengan sirip-siripnya yang indah. Rambut mereka panjang tergerai berwarna kuning keemasan. Merekalah para putri duyung.

Dari ke 6 putri itu, yang paling cantik adalah yang bungsu. Ia baru akan menginjak usia 15 tahun. Ada suatu adat para duyung, jika telah menginjak usia 15 tahun, maka akan diijinkan untuk melihat dunia selain dasar samudera, yaitu dunia di permukaan lautan. Besok Putri Duyung bungsu akan berusia 15 belas tahun. Karena itu kakak-kakaknya kini tengah menceritakan bagaimana keadaan dunia di atas permukaan samudera.
Dongeng tentang Putri Duyung yang jatuh cinta kepada seorang Pangeran, dan mengubah sirip dan ekornya yang indah menjadi kaki
Putri Duyung itu berambut kuning keemasan, bersuara merdu dengan ekor dan sirip yang indah

"Di permukaan sana, ada dunia yang sangat indah," kata Putri Sulung.
"Iya, benar sekali. Kamu akan melihat bagaimana bintang-bintang bertaburan di atas langit malam. Bagaikan permata berserak di atas beludru biru yang lembut," timpal putri yang lainnya.
"Kamu juga bisa melihat kilauan sinar matahari pagi yang memantul di atas ombak. Bagaikan kilauan-kilauan emas yang menguning," sambung putri duyung lainnya.
"Dan, angin yang bertiup sepoi-sepoi di rambutmu. Oh.. lembut. Sungguh tiada duanya." kakaknya yang lain menambahkan.

"Wahhh..., benarkah? Rasanya tak sabar ingin segera berumur 15 belas tahun," kata Putri Duyung bungsu itu. Matanya berbinar-binar membayangkan keindahan dunia di atas permukaan samudera.

***

Keesokan harinya, ketika Putri Duyung tepat berusia 15 tahun, diadakanlah pesta yang meriah. Semua penduduk kerajaan laut bergembira. Putri Duyung kini boleh melihat dunia di atas permukaan samudera.

Putri Duyung berenang-renang, berputar-putar dan menyanyi gembira. Ia segera menuju permukaan. Saat ia tiba di permukaan, hari telah mulai malam. Ia kini bisa menghirup udara. Ia pandangi taburan bintang yang berkerlap-kerlip di langit. Bulan purnama yang bulat penuh menguning. Indah sekali. Betul kata kakak-kakakku, dunia di atas permukaan samudera memang sangat indah, kata hati Putri Duyung.

Di kejauhan ia melihat sebuah bayangan hitam besar, terapung di atas lautan. Sesekali terlihat pancaran cahaya berwarna-warni dari benda itu.

Putri Duyung sangat penasaran. Ia mendekati benda hitam itu. Ternyata sebuah kapal yang sangat indah. Ada pesta di atas kapal itu. Terdengar bunyi musik yang sangat indah. Orang-orang berdansa dan tertawa-tawa gembira. Rupanya pancaran cahaya berwarna-warni yang dilihatnya tadi berasal dari kembang api yang dinyalakan. Di pinggir kapal, tampak seorang pemuda. Ia sangat gagah dan tampan. Seorang Pangeran! Ruapanya ia tengah merayakan ulang tahunnya yang ke 17.

Putri Duyung sangat ingin mendekat, tetapi ia takut terlihat.

Tiba-tiba angin berhembus kencang. Langit yang tadi berbintang kini gelap gulita. Orang-orang di atas kapal itu kemudian berhenti berpesta. Mereka menaikkan layar dan bersiap pulang. Tetapi kini cuaca semakin garang. Ombak bergulung-gulung. Badai menerjang. Kapal indah itu terombang-ambing. Dan akhirnya tenggelam.

Orang-orang di kapal itu ternyata tidak bisa berenang selincah Putri Duyung. Mereka memiliki kaki, bukan sirip dan ekor seperti yang dimiliki Putri Duyung. Pangeran sendiri tak berdaya dan akhirnya tenggelam.

Putri Duyung mengikuti tubuh Pangeran yang kini melayang turun. Sepertinya Pangeran telah pingsan. Putri Duyung sadar, bahwa ia harus menolongnya.

Dengan susah payah, ditariknya tubuh Pangeran. Ia berenang menuju pantai. Ketika sampai hari telah pagi dan langit kembali menjadi terang. Ia meletakkan Pangeran di atas pasir.

Tiba-tiba seseorang sepertinya datang ke pantai itu. Seorang gadis yang sangat cantik. Putri Duyung segera bersembunyi. Melihat ada orang terdampar di pasir, gadis itu berteriak memanggil orang kampung dan meminta pertolongan. Akhirnya Pangeran dapat diselamatkan.

Hati Putri Duyung senang, Pangeran itu selamat.



Setelah kejadian itu, Putri Duyung selalu teringat dengan Pangeran. Ia jatuh cinta kepadanya. Akhirnya ia mengutarakan isi hatinya kepada kakak-kakaknya. Ia ingin ke daratan dan menemui Pangeran itu.

"Tidak mungkin kamu ke daratan adikku," kata kakaknya yang sulung.
"Iya, betul. Tidak mungkin. Kita tidak mempunyai kaki. Bagaimana kita bisa berjalan di daratan. Tempat kita di dalam samudera. Bukan di daratan." kakaknya yang lain menimpali.
"Tetapi aku ingin sekali..." kata Putri Duyung lagi.

Semua saudara Putri Duyung bungsu iba. Tetapi mereka tidak dapat menolongnya.

***

Beberapa waktu kemudian, Putri Duyung teringat akan seorang penyihir sakti yang ada di dasar samudera. Walaupun ia pernah mendengar cerita bahwa penyihir itu tinggal di tempat yang jauh dan angker, Putri Duyung tidak gentar. Ia kemudian pergi menemuinya.

Benar saja. Penyihir itu tinggal di tempat yang paling sulit didatangi. Jalan menuju rumahnya gelap dan menyeramkan. Tetapi, berkat kegigihannya, Putri Duyung sampai juga di rumah penyihir itu.

"Apa yang dapat aku bantu, Putri Duyung?" kata si Penyihir.
"Aku ingin menjadi manusia. Aku ingin mengubah ekor dan siripku menjadi kaki", kata Putri Duyung.

"Tapi itu bukan perkara yang mudah Putri Duyung," jawab si Penyihir.
"Aku bisa mengubah ekor dan siripmu menjadi kaki. Tetapi kamu akan membayarnya dengan sesuatu yang sangat berharga. Kau akan membayarnya dengan sangat mahal. Kau akan kehilangan suaramu yang merdu. Dan, terasa sangat menyakitkan. Lalu, sekali kamu berubah menjadi manusia, kamu tidak akan dapat kembali menjadi duyung. Bila kau gagal menikahi Sang Pangeran, maka kamu akan berubah menjadi buih lautan untuk selama-lamanya," sambung Si Penyihir lagi.

"Aku akan sanggup," jawab Putri Duyung sangat yakin.
"Baiklah jika memang demikian. Pergilah kamu ke daratan. Minumlah ramuan ini. Dalam beberapa saat dan rasa sakit yang amat sangat, ekor dan siripmu akan berubah menjadi sepasang kaki untuk berjalan." kata Si Penyihir sambil menyodorkan sebotol kecil ramuan berwarna hitam.

Begitulah, Putri Duyung kemudian berenang menuju permukaan samudera. Dengan susah payah ia menuju kerajaan Sang Pangeran. Di atas pasir pantai Putri Duyung mulai meminum ramuan dalam botol kecil. Tenggorokannya terasa sangat sakit dan panas rasa terbakar. Perlahan-lahan ekor dan siripnya telah berubah menjadi sepasang kaki. Ia telah berubah menjadi manusia. Putri Duyung mencoba berdiri, tetapi telapak kakinya terasa seperti ditusuk-tusuk dengan pisau. Demikian besar rasa sakit yang ditanggungnya, telah membuat Putri Duyung jatuh pingsan.

Sang Pangeran yang sedang berjalan-jalan di pantai akhirnya menemukan Putri Duyung yang telah menukar ekor dan siripnya dengan kaki itu. Ia begitu kasihan melihatnya. Ditolong dan dirawatnya gadis itu. Pangeran sangat sayang padanya. Pangeran menganggapnya bagai adik kandungnya sendiri.

Ketika Putri Duyung telah sadar dan mulai mampu berjalan, Sang Pangeran tengah sibuk mempersiapkan pesta perkawinannya. Ia akan menikahi gadis cantik yang menemukannya di pantai dan dianggapnya telah menolongnya.

Mengetahui hal tersebut, Putri Duyung mencoba menjelaskan kepada Sang Pangeran, bahwa dialah yang sebenarnya menolong Pangeran. Tetapi apa daya. Ia telah kehilangan suaranya. Ramuan dari Penyihir telah membuatnya bisu. Ia tak bisa mengucapkan sepatah katapun.

Putri Duyung sangat kecewa. Ia akhirnya berlari menuju pantai. Aku telah gagal menikahi Sang Pangeran. Aku akan menjadi buih untuk selama-lamanya, pikir Putri Duyung.

Ketika ia sampai di pantai, kakak-kakaknya yang sangat sayang padanya telah ada di sana. Mereka sangat kasihan pada adiknya.

Rupanya mereka datang ke pantai untuk memberikan pertolongan agar Putri Duyung tidak berubah menjadi buih-buih lautan.
"Adikku, ambillah pisau ini. Bunuhlah Pangeran dengannya. Kami telah menukar rambut-rambut kami yang indah dengan pisau ini kepada Si Penyihir. Bila kau dapat membunuh Pangeran, maka kau akan terhindar dari kutukan dan akan kembali menjadi duyung. Kaki-kakimu itu akan kembali menjadi sirip dan ekor yang indah." Demikian kata si sulung sambil menyodorkan sebuah pisau belati yang berkilat-kilat tajam.
"Ya, dan kau akan dapat berkumpul lagi bersama kami dan ayah, adikku," kata kakaknya yang lain.

Putri Duyung menerima pisau itu. Ia kembali ke istana Pangeran.

Putri Duyung menyelinap ke dalam kamar Pangeran. Dilihatnya Sang Pangeran sedang tertidur lelap. Besok adalah hari pernikahannya. Ia harus membunuh Sang Pangeran agar dapat kembali berwujud sebagai duyung.

Perlahan-lahan diangkatnya pisau belati itu, siap menusuk jantung Sang Pangeran. Tetapi ia terdiam. Putri Duyung tidak sanggup membunuh orang yang sangat dicintainya itu. Putri Duyung kemudian berlari keluar istana menuju pantai. Biarlah ia menjadi buih-buih lautan.

Ia menangis sedih. Kakak-kakanya masih menunggu di pantai. Ketika kaki-kakinya menyentuh ombak dan air matanya menetes ke samudera, Ia melemparkan pisau belati yang berkilat-kilat itu ke tengah lautan.

"Selamat tinggal, kakak-kakakku yang baik hati, selamat tinggal ayah, selamat tinggal kerjaan samudera, selamat tinggal Pangeran. Biarlah kutanggung semua ini," katanya sambil terus terisak.

Dewa Angin yang menyaksikan peristiwa itu secara diam-diam, kemudian menjadi iba mendengar tangisannya. Dengan kesaktian Dewa Angin, Putri Duyung yang tubuhnya mulai hancur menjadi buih-buih lautan itu kemudian ditolong. Dijadikannya Putri Duyung seorang Peri Angin. Sosoknya berubah menjadi seorang gadis cantik yang bersayap. Ia melontarkan tubuhnya ke udara dengan indah. Ketabahan hatinya menghadapi kesedihan itu telah membuatnya terbebas dari kutukan menjadi buih-buih lautan, dan tentu dengan bantuan Dewa Angin juga.

Baca Juga; Cerita Maling Kundang Si Anak Durhaka dan Cerita Dunia: Pangeran Kodok


Selengkapnya

Cerita Dunia: Dongeng Pangeran Kodok

By sulthan on Thursday, June 30, 2016

Pernah dengar cerita tentang Pangeran Kodok dan Putri Bungsu? Bagus kok ceritanya. Ini merupakan salah satu dongeng dunia yang sangat terkenal. Ada hikmah dibalik cerita ini yang bisa diambil jadi pelajaran. Yaitu, janji adalah hutang yang harus dilunasi dan, seseorang dengan rupa yang buruk bisa saja merupakan orang yang berhati budiman. Dongeng ini mungkin, bisa diceritakan kepada anak-anak ketika mau berangkat tidur. Mau tau bagaimana ceritanya? Ayo kita simak.

Pada jaman dahulu di sebuah kerajaan, tingallah seorang putri yang sangat elok parasnya. Ia tinggal bersama ayahandanya yang sangat bijaksana. Pun demikian dengan ibunya sang permaisuri. Putri sangat suka bermain bola. Ia mempunyai sebuah bola kesayangan yang berwarna keemasan. Hampir setiap hari sang putri bermain-main dengan bola emasnya itu.

Pada suatu pagi, pergilah sang putri bermain bola di pinggir sebuah danau jernih yang ada di dekat istana. Ia melempar bola, menangkap, dan menggelindingkannya di tanah. Tak bosan-bosan ia bermain bola. Tetapi pada suatu kali lemparan, bola itu menggelinding dan masuk ke dalam danau.

Putri segera berlari dan melihat bola emasnya tenggelam perlahan. Danau itu airnya sangat jernih tetapi sangat dalam. Ia bisa melihat bola emasnya dari pinggir danau. Tetapi ia tak bisa berenang apalagi menyelam mengambil bola kesayangannya itu. Ia sendirian. Tak ada siapa-siapa yang bisa menolongnya untuk mengambil bola emas.
Kisah seorang pangeran yang dikutuk menjadi seekor kodok dan menemukan jodoh dan pembebasannya dengan menolong seorang putri dengan bola emas
dan bola emas itu jatuh ke dalam danau

Lamat-lamat, putri mulai terisak. Ia menangis. Ingin putri meraih bola yang tampak berkilauan dari dasar danau. Pipinya yang putih kemerahan telah basah dengan air mata.

“Huuu..uuuu.uuuuuuu.....”, isaknya.

“Mengapa menangis Tuan Putri? Lihatlah, gaunmu yang indah kotor terkena lumpur. Mengapa engkau menangis dan berjongkok di pinggir danau ini seorang diri?” Tiba-tiba terdengar suara, entah dari mana asalnya. Mungkin datang dari rerimbunan semak yang ada di pinggir danau.

Putri kaget. Ia mencoba mencari-cari siapa orang yang telah menegurnya itu. Tetapi ia tak menemukannya. Hanya seekor kodok besar berwarna hijau dengan kulitnya yang berbenjol-benjol dan berlendir yang ada di sana.

“Siapa yang tadi berbicara? Kau kah kodok hijau besar? Mungkinkah kamu dapat berbicara layaknya seorang manusia?”, tanya Putri penuh selidik.

Kodok hijau besar mengerjap-ngerjapkan matanya yang hitam besar. Terdengar lagi suara itu. Suara seorang laki-laki, dan mulut kodok hijau juga tampak bergerak-gerak. “Ya Tuan Putri, sayalah yang berbicara dengan Tuan Putri. Saya kodok hijau besar yang buruk rupa ini.”

Terbengong-bengonglah Putri menemukan kodok itu pandai berbicara seperti manusia. Tetapi setelah habis kebingungannya, muncullah ide dari Putri. Ia berkata kepada Kodok Hijau Besar. “Mau kah kau menolongku, wahai Kodok Hijau Besar? Bola emas kesayanganku jatuh ke dalam danau. Airnya jernih tetapi sangat dalam. Aku tidak bisa berenang dan menyelam untuk mengambilnya. Maukah kau menolongku?”

Kodok Hijau Besar mengerjap-ngerjapkan matanya yang hitam. Ia melompat mendekati Putri. Kini Kodok Hijau Besar dekat sekali dengan kaki Putri. Jijik juga Putri melihat kodok itu. Ia mundur selangkah.

Kodok Hijau Besar kemudian menyahut.
“Bila aku mau mengambilkan bola emas kesayanganmu, apa hadiahmu untukku?”

“Oh, aku akan berikan apapun keinginanmu. Apapun, wahai Kodok Hijau Besar.”
“Benarkah? Bagaimana kalau aku ingin ikut makan malam bersamamu, di meja makanmu, wahai Tuan Putri?” Tanya Kodok Hijau Besar kepada Putri.
“Boleh. Tentu boleh.”
“Dan... bolehkah aku tidur di kamarmu, bersamamu, wahai Tuan Putri?” Tanya Kodok Hijau Besar lagi.
“Boleh... Sangat boleh, wahai Kodok Hijau Besar yang baik hati,” kata Putri lagi.

Kemudian Kodok Hijau Besar melompat ke dalam air danau. Ia menyelam dan mengambil bola emas dan menyerahkannya untuk Putri. Gadis itu sangat girang. Ia kemudian mengucapkan selamat tinggal kepada Kodok Hijau Besar. Dan Kodok Hijau Besar mengingatkan Putri bahwa nanti malam ia akan ikut makan malam dan tidur bersama Putri.

Putri mengiyakan dan segera berlari-lari pulang sambil bersenandung riang.

***

Malam itu, Putri bersantap bersama Sang Raja dan Permaisuri. Ketika sedang asik menikmati hidangan, terdengarlah bunyi ketukan di pintu.

“Tok...tok...tok.........tok.”
Raja segera memerintahkan pengawal untuk membukakan pintu. Pengawal mulanya menyangka orang yang mengetuk pintu itu telah pergi. Ia tak melihat ada siapapun di depan pintu sampai matanya tertuju ke lantai. Dilihatnya seekor kodok hijau besar ada di lantai. Dialah yang telah mengetuk pintu. Ternyata Kodok Hijau Besar ingin menagih janjinya kepada Putri.

“Wahai Pengawal yang budiman, ijinkan saya masuk. Tuan Putri berjanji akan memperbolehkan saya makan malam bersama dan tidur di kamarnya malam ini karena saya telah membantunya mengambil bola emas di dasar danau.”

Pengawal kemudian melapor kepada Raja. Mendengar laporan Pengawal, Putri terkejut. Ia keberatan. Ia akan merasa jijik jika Kodok Besar Hijau makan di meja bersamanya dan nanti tidur di kamarnya. Tetapi Sang Raja dan Permaisuri yang bijaksana meminta Putri untuk membayar janjinya.

“Pengawal, ajak Kodok Hijau Besar masuk. Biarkan ia makan malam bersama kami. Dan biarkan nanti ia tidur bersama Putri di kamarnya. Putri harus memenuhi janji yang telah diucapkannya.” Demikian kata Sang Raja.

Putri tak dapat berkata apa-apa lagi. Pengawal beranjak mengajak Kodok Hijau Besar masuk.

Kodok Hijau Besar kemudian naik ke atas meja, dan ikut makan bersama Sang Raja, Permaisuri dan Putri. Ia makan dengan lahap. Putri jijik melihatnya.

Selesai makan malam. Raja dan Permaisuri kemudian berpesan kepada Putri untuk memenuhi janjinya yang kedua, yaitu membolehkan Kodok Hijau Besar tidur bersamanya.

***

Kodok Hijau Besar kemudian masuk bersama-sama Putri ke dalam kamar. Putri sangat jijik. Kodok Hijau Besar melompat-lompat dan naik ke tempat tidur. Sang Putri dengan cepat memegang ujung kaki Kodok Hijau Besar dengan berlapis sapu tangan. Dilemparkannya Kodok Hijau Besar dari tempat tidurnya.

Tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi. Kodok Hijau Besar seketika berubah menjadi seorang pemuda yang sangat tampan. Bajunya sangat indah. Jelaslah bahwa ia seorang pangeran.

Putri sangat kaget. Tetapi Sang Pangeran justru berterima kasih kepada Putri.
“Maafkanlah saya, wahai Tuan Putri. Saya sesungguhnya adalah seorang pangerah yang dikutuk seorang penyihir jahat. Memang harus beginilah caranya agar aku terbebas dari kutukan itu. Dan engkau memang sudah ditakdirkan menjadi jodohku,” kata Sang Pangeran.

Putri pun meminta maaf karena telah berlaku kasar dan mencoba mengelak dari janjinya.

***

Akhirnya Sang Raja menikahkan Putri dengan Pangeran. Ketika upacara pernikahan selesai, datanglah sebuah kereta kecana yang gemerlapan menjemput kedua mempelai. Pangeran memohon ijin kepada Sang Raja untuk memboyong Putri ke istananya. Dan Raja pun mengijinkannya. Mereka kemudian hidup bahagia selama-lamanya.

Dongeng ini diadaptasi dari Cerita Pangeran Kodok dan Putri Bungsu karya Jacob dan Wilhelm Grimm (Grimm Bersaudara 1785 - 1863, dari Jerman).
Selengkapnya

Cerita Hikmah: Bapak, Anak, dan Keledai

By sulthan on Friday, September 26, 2014

Cerita Hikmah: Bapak, Anak, dan Keledai
Di mana rasa sayangmu terhadap anak itu?

Cerita Hikmah: Bapak, Anak, dan Keledai


Pasa suatu masa, di sebuah negeri dikisahkan, ada dua orang anak beranak yang ingin pergi ke suatu pasar untuk menjual seekor keledai. keadaan Bapak, Anak, dan keledai itu serba tanggung. Bapak itu berumur agak lanjut, tetapi masih cukup kuat untuk berjalan. Si Anak sendiri juga tanggung, ia adalah remaja yang belum dapat di sebut dewasa, tetapi juga tidak dapat lagi dikatakan anak-anak. Sementara si keledai, adalah keledai yang sehat kuat tetapi badannya beukuran agak kecil.

Pagi-pagi, berangkatlah mereka menuju pasar yang letaknya agak jauh dan harus ditempuh dalam perjalanan setengah hari. Bapak dan Anak, dengan membawa bekal makanan yang cukup untuk diperjalanan segera naik ke punggung keledai. Mereka menaiki keledai itu selama beberapa jam, hingga akhirnya tiba di sebuah kampung dengan kerumunan orang-orang. Demi melihat seekor keledai kecil dinaiki oleh Bapak dan Anak itu, berbisik-bisiklah orang-orang itu. Kemudian salah satu dari mereka berbicara.

Teruskan Membaca »
Selengkapnya

Cerita Hikmah : Bangau, Tujuh Ikan Mas, dan Kepiting

By sulthan

Cerita Hikmah : Bangau, Tujuh Ikan Mas, dan Kepiting
Bangau tertawa licik, sadarlah Kepiting ...

Cerita Hikmah : Bangau, Tujuh Ikan Mas, dan Kepiting


Kali ini saya ingin bercerita. Tentu cerita berikut bukan sekedar cerita, tetapi mengandung hikmah. Cerita ini berjudul Bangau, Tujuh Ikan Mas, dan Kepiting. Cerita ini adalah cerita yang pernah saya baca, tetapi saya lupa kapan. Mungkin ada sedikit perbedaan dengan cerita aslinya, tetapi pada intinya sama. Baiklah, sekarang kita simak ya ceritanya.

Dahulu kala, di sebuah danau yang sangat indah, hiduplah tujuh ekor ikan mas, seekor kepiting, dan seekor bangau yang saling bersahabat. Mereka selalu tolong-menolong jika ada di antara mereka yang membutuhkan bantuan. Mereka hidup rukun dan damai.

Akan tetapi kebahagiaan itu berakhir karena kemarau yang sangat panjang. Air danau yang dulu jernih, penuh makanan bagi semua binatang ini menjadi kering berlumpur.  Tentu ketujuh ikan mas dan kepiting kesulitan. Jangankan mencari makanan, untuk bernapas saja ikan-ikan mas itu sangat kesulitan. Lumpur  membuat insang mereka tidak dapat berfungsi dengan baik. Kepiting masih sedikit beruntung karena ia lebih dapat bertahan pada kondisi demikian.

Ketika keadaan semakin kritis, datanglah burung bangau sahabat mereka. Bangau memang tidak selalu ada di danau itu. Sering ia pergi berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan ke tempat-tempat lain. Melihat keadaan sahabat-sahabatnya, segera ia menawarkan bantuan. Katanya kepada ketujuh ikan mas dan kepiting,

“Maukan kalian kutolong untuk pergi dari tempat yang sudah seperti neraka ini?”

Teruskan Membaca »
Selengkapnya

Kecurangan Dan Lubang Di Hati

By sulthan on Sunday, May 25, 2014

Kecurangan Dan Lubang Di Hati

Di sebuah kerajaan, hiduplah dua orang putri. Putri pertama bernama Rara, sedangkan putri kedua bernama Dara. Mereka kakak beradik tetapi agak berbeda sifat. Rara yang usianya lebih tua setahun dari Dara lembut dan bijak. Sedangkan Dara mempunyai sifat sedikit ambisius walaupun pada dasarnya juga baik hati. Keduanya sama-sama cantik dan pandai sekali melukis.

Setiap tahun, Raja yang merupakan ayah mereka selalu mengadakan lomba melukis. Lomba itu selalu diikuti oleh banyak orang, baik kalangan bangsawan maupun rakyat jelata. Raja selalu menyediakan hadiah yang menarik untuk sang pemenang. Dalam tiga tahun terakhir, Rara selalu berhasil menjadi pemenang. Rara menjadi pemenag bukan karena ia putri Sang Raja, akan tetapi karena memang lukisannya paling indah di antara semua peserta.

Seperti tahun sebelumnya, kali ini Raja kembali mengadakan lomba melukis. Pengumuman disebarkan ke seluruh penjuru kerajaan. Raja mengajak semua orang untuk mengikuti lomba melukis tersebut. Hadiah yang diberikan sangat menarik: sebuah istana mungil yang dikelilingi kebun bunga yang luas dan amat indah.
Teruskan Membaca »
Selengkapnya

"what is internet in hindi" || internet kya hai (in hindi)

What is internet in hindi ||history of internet in hindi "What is internet in hindi", today we all are trying to know about what i...