Showing posts with label Perawatan Kanker. Show all posts
Showing posts with label Perawatan Kanker. Show all posts

Suplemen Pendamping Kemoterapi

By sulthan on Thursday, January 26, 2017

Dari kiri atas ke bawah: jus buah sayur, susu, wheat grass, jamu mangandeuh, jamu kunyit

Sudah setahun sejak suami saya, Tessal, divonis kanker usus besar stadium 3. Sudah hampir setahun juga sejak operasi pengangkatan usus, dan sudah 5 bulan berlalu sejak kemoterapi terakhir. Sekarang? Alhamdulillah suami saya fit, sudah full lepas obat, dan sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Walaupun kami masih harus menjaga makan &; lifestyle selama minimal 2 tahun sebelum akhirnya bisa mengklaim diri sebagai cancer survivor (kontrol dan tes rutin masih tetap harus dilakukan sampai 2 tahun ke depan. Baca lengkapnya di post ini).

Saat suami saya divonis kanker, berbagai macam informasi alternatif pengobatan bermunculan di hadapan kami, tapi akhirnya dengan dukungan penuh dari keluarga, kami mengambil jalan tengah. Kami tetap mengikuti prosedur medis yang memang sudah ada, which were operasi dan kemoterapi, tapi menggunakan asupan herbal dan natural sebagai suplemen untuk mendukung daya tahan tubuh suami saya selama proses kemoterapi, because you know.. Chemotherapy was so eeerrgghh.. (baca cerita kemoterapi suami saya disini).

Dan.. Di post kali ini saya ingin berbagi review tentang aneka supplemen herbal yang dikonsumsi oleh suami saya selama proses kemoterapi dan dilanjutkan sekarang. Note that bahkan sampai sekarang, saya masih menyediakan aneka jejamuan ini untuk suami saya setiap hari 2x sehari. Will never stop until he is claimed as a cancer free person. Post ini juga saya tujukan untuk teman saya Anggi yang sempat bertanya pada saya tentang ini tapi belum sempat saya balas dengan mendetail sampai sekarang (sorry Anggiiii.. Here's for you yaaa). So here it is.. Aneka suplemen dan jamu untuk pendamping kemoterapi.

1. Jamu Kunyit
Kunyit gede atau bahasa kerennya turmeric mengandung anti-oxidant dan anti-inflamatory yang sangat kuat. Menurut Cancer Research UK, curcumin (kandungan utama kunyit) memiliki efek anti kanker. Dia mampu membunuh sel kanker dan mencegah pertumbuhannya, terutama pada kanker payudara, usus, dan kulit. Studi lainnya dari Amerika di tahun 2007 mengatakan bahwa proses kemoterapi yang dikombinasikan dengan konsumsi curcumin memiliki efek membunuh sel kanker yang lebih hebat daripada jika kemoterapi dilakukan sendiri. Jamu kunyit ini biasa saya bikin manual dengan bantuan ibu saya (kunyit gede & kunyit putih direbus gitu), atau kalau mau praktis dan untuk traveling, saya pakai yang sudah berbentuk bubuk (yes, even traveling pun tak lupa jamu kunyit). Jamu ini dicampur oleh air asam jawa /apple cider vinegar dan gula jawa atau madu, supaya rasanya lebih enak. FYI, untuk menemani suami supaya dia mau minum, saya juga rutin minum ini. Hehe..

2. Jamu Batang Mangandeuh/Benalu
Batang mangandeuh ini di-supply oleh mama mertua saya dari Subang. Cara bikinnya direbus di kendi tanah liat sampai airnya kecoklatan. Manfaat yang paling terasa dari jamu ini adalah untuk mengurangi efek kesemutan di ujung-ujung jari setelah kemoterapi.

3. Juice Buah & Sayur
Saya invest di slow juicer untuk membuat sari buah dan sayur untuk suami saya. Kadang rasanya gak karu-karuan memang karena saya campur macam-macam buah dan sayur yang khususnya cancer fighter seperti bit & wortel, tapi saya paksa aja cekokin dia buat minum. Hehe..

4. Wheat Grass Powder
Wheat grass mengandung klorofil, selenium, dan laetril sebagai agen 'penyerang' kanker. Selain itu, wheat grass dikenal sebagai makanan yang bersifat alkali (kanker tumbuh karena kondisi tubuh sangat asam), oleh karena itu bagus untuk mendukung 'penyerangan sel kanker'. Wheat grass powder ini bisa dibeli di toko-toko organik dengan harga kurang lebih Rp 95.000 per jar. Kalau toko organik favorit saya itu www.nourishindonesia.com

5. Susu Suplemen Peptamen
Selesai operasi dan saat belum bisa makan, suami saya hanya minum susu peptamen ini, tapi tetap kami lanjutkan selama proses kemoterapi karena kandungan nutrisinya yang memang tinggi. Sekarang, suami saya sudah tidak minum lagi karena sepertinya susu ini berkontribusi meningkatkan berat badan dengan cukup cepat (tetep maunya ganteng. Wkwk).

6. Ekstrak Drop Jamur Maitake
Fungsi utama dari kandungan jamur maitake adalah mencegah pertumbuhan sel tumor. Kami mendapatkan vitamin ini dari salah satu kolega suami di Korea. Saya sempat ngerasain juga. Enaaak.. Hehe.. Tapi konsumsi berakhir setelah 2 botol habis karena ternyata belinya di Singapore dan harganya juga lumayan (sekitar 125 SGD per botol).



7. Transfer Factor
Yang ini, saya dan Zeya juga minum. Dari semua vitamin, ini yang masih kami minum sampai sekarang. Harganya memang cukup mahal, sekitar Rp 800.000 1 botolnya. Tapi vitamin ini super oke bangeeettt.. Sebagai 'pendidik sistem imun', vitamin ini mensupport sistem imun kita untuk tahan & menyerang saat diserang. Saya sampai jadi member demi bisa dapat TF ini dengan harga member.



8. Celergen
Nah ini another super power vitamin yang asalnya dari Swiss. Celergen diekstrak dari hewan laut dan berfungsi untuk menutrisi sel & menghambat penuaan dini. Obat awet mudah celeb-celeb Hollywood ceritanya.. Hehe.. Untuk 30 butir pil, harganya sekitar USD 350, dan kami beruntung banget karena dihadiahi 1 box oleh teman saya tersayang (Thanks Pipi! :*).



9. Propolis
Propolis berasal dari air lebah dan digunakan oleh para lebah untuk menambal sarang, mencegahnya dari serangan bakteri, virus, dan jamur. Kandungan utamanya bioflavonoid yang bermanfaat sebagai anti oksidan dan menjaga vitalitas pembuluh darah, karena salah satu efek kemoterapi adalah pembuluh darah menjadi lebih kecil dan rapuh (sempat pada satu sesi kemoterapi, pembuluh darah suami saya mendadak susah dicari sehingga harus berkali-kali ditusuk :(). Propolis ini diminum dengan cara 12 tetes dicampur ke dalam air hangat dan diaduk menggunakan sendok kayu/plastik.



10. Madu
Sama seperti propolis, madu mengandung banyak flavonoid, dan banyak sekali manfaat madu yang berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Jadi, mulai dari manuka honey sampai madu herbal, suami saya minum 2 sendok teh (sendok kayu atau plastik) setiap pagi dan malam).



11. Kangen Water/Zam-zam
Kangen water dan air zam-zam bersifat alkali (basa), sehingga di kesehariannya suami saya pasti mengkonsumsi air ini minimal 3 liter.

12. Bawang putih cincang
Bawang putih mengandung zat anti infeksi dan anti radang yang sangat tinggi. Jadi salah satu rutinitas suami saya adalah menelan bawang putih cincang 1 siung, lagi-lagi setiap pagi dan malam.

13. Young Living Essential Oil
I'm an oil kind of person. Saya suka sekali oles-oles essential oil untuk berbagai kebutuhan. Selama suami saya kemoterapi, essential oil jagoan saya adalah; Lemon, untuk menghilangkan rasa mual dan support daya tahan tubuh. Frankincense, essential oil anti kanker paling kuat. Satu tetes di bawah lidah sebelum tidur. Di-Gize, untuk oleh-oles perut kalau kembung. Stress Away; untuk memberikan efek relaks dan nyaman jika efek kemo menyerang. Biasanya saya urutkan (dicampur dengan minyak kelapa/VCO dulu) di punggung dan daerah leher.



14. Air Rebusan Sereh
Sereh ternyata mengandung banyak sekali manfaat, lho! Melindungi kerusakan DNA, menghancurkan patogen jahat, menetralkan radikal bebas, dan sebagainya. Maka, air rebusan sereh menjadi salah satu terapi untuk suami saya walaupun untuk yang satu ini saya kurang rutin kasihnya. *peace!



Tidak ada yang menjamin bahwa mengkonsumsi aneka jamu, vitamin dan makanan di atas pasti kanker sembuh 100%, tapi kita harus terus berusaha dan ikhtiar, right? Pada akhirnya Allah lah yang menyembuhkan, dan pada akhirnya, jangan pernah bertindak 'semau gue', karena dalam ilmu medis pun pengobatan kanker itu sudah ada protokolnya. So always consult to your doctor. Alhamdulillah kami mendapatkan dokter yang open minded dan tidak saklek anti herbal. Konsumsi jamu-jamu ini juga saya sampaikan kepada dokter yang menangani suami dan beliau mendukung selama dosisnya wajar dan memang digunakan sebagai suplemen, bukan sebagai pengganti obat.

Sekarang, perjuangan belum berakhir. Kami masih harus ketat menjaga asupan makan, gaya hidup, dan suplemen ini supaya hasil tes rutin tetap bagus dan si crazy cancer gak balik lagi. Banyak orang bertanya, mau ya suaminya minum segitu banyak jamu? Jawabannya HARUS MAU. Gimanapun harus terus disemangati supaya mau, kalau perlu saya minum juga, gak apa-apa deh. Disuapin, diingetin tiap jam, disodorin depan muka, anything asal dia mau minum. Hehe..

So, for you out there who is battling with cancer or having loved ones fighting cancer, pesan saya cuma satu, jangan berhenti ikhtiar jangan berhenti yakin bahwa pasti sembuh. Beberapa items di atas memang ada yang mahal, tapi alam sudah menyediakan banyak juga alternatif bahan lain yang lebih murah. Semangat meraciknya! Jangan malas! Dan jangan lupa untuk minta sama yang Maha Menyembuhkan untuk mengangat penyakitnya. Insya Allah dengan ikhtiar dan positivity, semua bisa terlalui.. Bukan tidak mungkin karena sudah banyak success story nya. Ok?? SEMANGAT UNTUK KITA SEMUA!! Cheers!

Love,
B

PS: Baca perjalanan saya dan suami menghadapi kanker usus stadium 3 di post-post ini
- Cerita awal
- Setelah pulang dari Rumah Sakit
- Cara membantu pasien kanker
- Pengalaman kemoterapi
- Setelah selesai kemoterapi

Semoga bermanfaat ;)
Selengkapnya

Setelah Selesai Kemoterapi..

By sulthan on Monday, October 17, 2016



Setelah melalui 8 kali siklus kemoterapi, akhirnya pada hari ini saya & suami saya kontrol ke dr. Hamid di RSPAD Gatot Subroto. Setelah menulis pengalaman Kemoterapi Pertama & Kedua, tidak banyak yang bisa saya bagikan dalam blog ini lagi. Saya malah banyak menulis tentang dunia motherhood dan mompreneur. Jujur saja, the past 7 months was overwhelming, dan berbicara tentang kemoterapi selalu membuat hati saya nyiiitt sampai sekarang.. Jadi saya akan mengulas sedikit saja pengalaman kemoterapi 3-8 dalam post ini.

Efek kemoterapi siklus ke 3-8 memiliki kesamaan pola; seminggu pertama pasti tepar. Suami saya memiliki jadwal kemo setiap hari Senin, per 3 minggu siklus. Setelah hari H, dia akan mulai fit kembali pada hari Minggu berikutnya, karena Senin setelah kemo, dia pasti 'mabok'. Di minggu inilah perjuangannya benar-benar terasa, karena terkadang saya habis akal, kata-kata, dan tenaga untuk bisa membuatnya nyaman. Memijat, memberi makanan, memeluk, mendoakan, memberi kata-kata semangat seakan tidak ada gunanya pada masa ini. Dia hanya bisa terbaring lemah dan sesekali mengerang kesakitan saking dahsyatnya efek yang dirasakan, dan pada saat seperti itu saya harus tetap 'chin up', demi dia, dan anak kami Zeya yang baru berumur 2 tahun.

Efek lainnya adalah kesemutan di ujung-ujung jari tangan dan kaki dan tingginya sensitifitas pada benda dingin. Kedua hal ini juga berlangsung selama kurang lebih satu minggu. Kebayang kan gak nyamannya. Di kemo ke-5, suami saya juga sempat mengalami kendala; suster kesulitan menemukan pembuluh darah di tangan sehingga harus berkali-kali pindah tangan dan tusuk sana-sini. Memang, salah satu efek kemoterapi adalah pembuluh darah menjadi lebih tipis dan kecil. Akhirnya, menjelang kemoterapi ke-6, suami saya mulai aktif berolahraga lagi dan latihan ringan untuk jari-jari dan tangannya. Alhamdulillah kemo ke-6 sampai 8 lancar tanpa hambatan pembuluh darah.

Seminggu setelah kemo, barulah dia fit kembali. Walaupun demikian, kami masih harus disibukkan dengan jadwal kontrol dan tes darah rutin yang membuat dia harus bolak balik rumah sakit setiap minggunya. Syukur alhamdulillah, kantor suami memberi kelonggaran sehingga suami saya pun bisa mendapatkan ijin sakit selama menjalani proses kemoterapi ini. Jika tidak, saya benar-benar tidak bisa membayangkan dia harus menempuh perjalanan jauh dan bekerja long hours dengan kondisi stamina yang sedang 'digempur habis-habisan' oleh obat kemoterapi.

However, untuk ukuran orang yang sedang (dan baru saja selesai) menjalani kemoterapi, suami saya terbilang cukup fit. Berat badannya malah naik pasca operasi Februari 2016 lalu, rambutnya tidak ada sedikitpun yang rontok, dan kulitnya tidak menghitam gosong (hanya muncul beberapa spot kecil di ujung-ujung jari). Pokoknya, tetep ganteng deh. Hehe.. Banyak orang bertanya "how come?".

Suami saya 3 hari pasca kemo ke-8. Masih berusaha ceria bermain dengan Zeya walaupun lagi mabok-maboknya. PS: look at those hair!

Ada beberapa jawaban untuk pertanyaan tersebut. Pertama, tentu saja karena izin Allah SWT. Kedua, menurut dokter bedah digestive yang menangani suami saya, obat kemoterapi itu ada rumusnya, jenis tumor itu ada rumusnya. Jika obat yang diberikan tidak sesuai dengan rumus tumornya dan tidak tepat sasaran baik dari segi jenis obat maupun dosis, kemoterapi bisa menjadi racun, namun jika tepat, efek buruknya bisa minim sekali. Alhamdulillah sekali lagi karena kami mendapatkan dokter yang super detail, teliti, dan tidak ragu untuk berbagi informasi dengan pasiennya. Ketiga, bisa jadi karena selama menjalani kemoterapi, suami saya digempur oleh air kangen dan berbagai suplemen, serta jamu yang akan saya tulis reviewnya di post terpisah nanti. Terakhir, dan yang paling penting; is because he is the bravest man I knew. Dia selalu bersemangat dan sabar dalam menjalani setiap prosesnya dan dia mau untuk ikhtiar bersama, termasuk meminum aneka jamu dan suplemen yang kadang rasanya gak karu-karuan.

Aneka minuman yang saya siapkan untuk suami saya setiap pagi dan malam.

And at the end, here we are. Standing at this point to be finally be able to say "WE MADE IT!"

Setiap pernikahan memiliki tantangannya masing-masing, dan untuk kami berdua, sakitnya suami ini merupakan tantangan terbesar dan terberat selama hampir 5 tahun pernikahan kami. Walaupun demikian saya sangat bersyukur karena diberikan pengalaman ini oleh Allah, because I learned so much from this experience. Saya diberikan kesempatan untuk bisa kembali meninjau tujuan hidup saya, prioritas saya, connecting with people who really care to us, and most importantly, belajar bahwa "what's essential is invisible to the eye". Suami saya adalah pria tersabar yang pernah saya kenal, and I'm so proud of him.

So today, is the end and at the same time, another new beginning for us. Setelah kemoterapi selesai, kami masih harus menjalani tes darah dan kontrol rutin setiap 3 bulan, USG abdomen dan rontgen setiap 6 bulan, dan CT Scan dan kolonoskopi setiap tahun selama 2 tahun pertama. Perjuangan belum berakhir, but for now, let's celebrate this new milestone and be ready for whatever comes in our way. Percaya bahwa Allah selalu ada untuk makhluk-Nya. Ganbatte! :)
Selengkapnya

Hospital Discharge. To be Finally Home

By sulthan on Thursday, March 10, 2016



Senin, 7 Maret 2016 merupakan hari yang sangat melelahkan tapi juga membahagiakan bagi saya. Bagaimana tidak, setelah pada akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke Bandung sebentar untuk syuting liputan NyoNya Nursing Wear bersama NET TV, pada hari yang sama juga suami saya dibolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Yay!

Proses recovery pasca operasi pengangkatan kanker usus besar suami saya memang terbilang cukup cepat. Hanya dalam satu minggu setelah operasi, dia sudah bisa jalan dan pulang ke rumah.

OOT sebentar, NyoNya Nursing Wear dijadwalkan untuk diliput oleh NET TV pada hari Senin tersebut. Pada awalnya saya tidak mengira bahwa suami saya boleh pulang secepat itu, dan karena kegiatan peliputan ini merupakan salah satu langkah besar dalam milestone bisnis baju menyusui yang saya geluti selama ini, saya pun nekat pulang ke Bandung pada hari Minggu nya dan kembali ke Jakarta Senin malam. Selesai syuting, hati saya gak karuan antara senang karena suami sudah boleh pulang, tapi juga sedih karena saya tidak bisa menjemput dan membantu orang tua kami beres-beres.

But anyway, yang paling penting sekarang adalah we are all home safe and soundly, happy and grateful. Sambil masih menunggu hasil patologi anatomi tumor, kami pun membangun 'dinding pertahanan' alias menguatkan sistem imun suami saya. Berbagai makanan anti-kanker menghiasi menu diet harian suami saya. Saya harap, tubuh suami saya bisa tetap kuat untuk menghadapi kemoterapi nanti.

Melalui post ini saya juga ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman dan keluarga semua yang sudah memberikan dukungan dalam bentuk apapun. Mulai dari supply air kangen, air zamzam, buah-buahan, dan makanan untuk 'penunggu rumah sakit', essential oil frankincense, sampai pinjaman PS4 untuk menghibur suami saya. Terima kasih juga kepada sahabat-sahabat saya yang sudah bersedia datang dan jadi penampungan curhatan saya. (Mama here needs to be entertained too. Wkwk..) And above all.. Terima kasih saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berkumpul bersama kembali, merasakan lagi betapa nikmatnya shalat berjamaah di-imami oleh suami tercinta..

Perjalanan masih panjang. Bismillah for everything.. :)
Selengkapnya

Chin Up! C'est la vie!

By sulthan on Friday, March 4, 2016



Setelah berada kurang lebih sebulan di Indonesia untuk mengurus NyoNya dan menghadiri acara NNW 2nd Anniversary Lunch, saya dan Zey pun dijadwalkan untuk pulang ke Korea pada tanggal 19 Februari 2016 yang lalu. Tapi ternyata Allah Maha Asyik, suami saya mendapatkan tugas dinas ke Indonesia pada tanggal 23-25 Februari, alhasil flight saya dan Zey diundur menjadi tanggal 28 Februari.

It's all seemed so perfect until 2 weeks before our flight, suami saya mengeluh sakit perut seperti ditusuk, meriang namun tidak demam, dan BAB berdarah. Saya ingat pada tahun 2014 yang lalu dia pernah didiagnosa wasir, dan pada bulan Desember 2015 dia mengalami gejala serupa juga. Karena adanya riwayat wasir tersebut, suami saya yang cukup sehat sehingga jarang ke dokter, menolak untuk dibawa ke dokter. However, karena range dari Desember-Februari cukup dekat dan saya sedang berada di Indonesia, saya sarankan suami saya untuk periksa ke dokter.

Akhirnya, periksa lah suami saya ke dokter gastro di Soon Chun Hyang University Hospital Seoul. Mendengar penjelasan suami saya, dokter langsung menyuruh dia untuk segera kolonoskopi. Hasil kolonoskopi keluar seminggu kemudian dan selama itu dia masih aktif bekerja seperti biasa, malah load kerjaan lebih dari biasanya karena kebetulan kantor suami sedang sibuk luar biasa.

Satu minggu berlalu, suami saya pun kembali ke rumah sakit dan hasilnya ternyata sangat mengejutkan! Setelah dilakukan kolonoskopi dan biopsi sample, suami saya didiagnosa terkena kanker usus besar (colon cancer). Suami saya shock, saya yang mendengar via telepon shock bukan main, dokter pun shock berat karena suami saya baru berusia 27 tahun, tidak merokok, tidak minum alkohol. HOW COME??!! Dokter di Korea menyarankan untuk segera dilakukan pemeriksaan menyeluruh, dan pada akhirnya karena dia akan tugas ke Indonesia, kami memutuskan bahwa check up lebih lanjut akan dilakukan di Indonesia.

Flight suami pun dipercepat menjadi tanggal 20 Februari. Hari Seninnya, kami langsung mengunjungi poli bedah di RSPAD Gatot Subroto Jakarta (alasan pemilihan RS ini adalah karena fasilitas dan alat-nya sudah banyak diupgrade waktu jaman Pak SBY dulu, dan kami juga ada kerabat yang merekomendasikan RS ini). Hasil check up dan konsultasi dengan dokter bedah digestif di RSPAD mengkonfirmasi diagnosa dokter Korea, bahwa memang ada kanker pada usus besar suami saya. Namun, untuk mengetahui sudah sejauh mana penyebarannya, perlu dilakukan CT scan.

Alhamdulillah jalannya dimudahkan oleh Allah Sang Maha Pembuka Jalan. Kami mendapatkan jadwal CT Scan hari kamis nya. Setelah melakukan CT Scan, diketahui lah bahwa kanker suami saya sudah mencapai stadium 3B. Hari itu juga suami saya masuk opname dan dijadwalkan untuk operasi pada hari Senin minggu depannya.

Dua malam pertama sejak mengetahui berita tersebut dipenuhi oleh air mata. Apalagi pada saat itu posisinya suami saya masih di Korea. "What should I do?" memenuhi otak saya. Tapi saya sadar, saya tidak boleh terjebak emosi negatif karena suami membutuhkan dukungan saya. Jadi instead of energi nya dihabiskan untuk menangis, mencari kambing hitam, atau marah, saya fokuskan untuk berdoa dan mencari kisah-kisah sukses orang yang sembuh dari kanker. Selanjutnya, saya langsung menyuruh dia untuk STOP makan nasi, daging merah, dan dairy products (susu, keju, dan sebangsanya). He was raw vegan sampai hari operasi tiba. Saya juga mengganti air minum nya dengan Kangen Water dan air Zam-Zam.

Support system pun dibentuk. Karena Zey masih menyusu dan sangat time-energy consuming untuk bolak balik Jatiwarna-Senen setiap hari, saya pun menyewa apartment Mitra Oasis tepat di depan RSPAD supaya saya bisa tek tok antara suami dan Zey. Ibu dan adik saya dari Bandung pun diboyong untuk membantu mengasuh Zeya. Mama mertua pun cuti panjang demi untuk menunggui anaknya.

Hari operasi pun tiba. Berjuta doa saya panjatkan untuk suami tercinta. Saya mengantarnya sampai ruang tunggu operasi. Kami bahkan sempat bercanda sebelum masuk ruangan. That was my goal indeed.. Untuk tidak terlihat stress di depan dia karena semangat adalah faktor nomor 1 untuk kesembuhan pasien kanker. Operasi berlangsung lama, 4 jam. Tapi berkat rahmat Allah SWT melalui tangan dr. A. Hamid dan tim nya, operasi pengangkatan kanker usus suami saya berjalan lancar.

Proses recovery pun berjalan dengan sangat memuaskan. Di hari ke-3 pasca operasi, semua selang (lambung, catheter, oksigen) sudah dilepas. Sudah bisa minum dan sedikit-sedikit belajar jalan. Lukanya pun sudah hampir kering. Saya sangat terharu dan bangga melihat semangat dia untuk segera sembuh.

Sekarang, perjuangan selanjutnya masih harus dilakukan. Setelah hasil patologi anatomi terhadap tumor dilakukan, kami harus menghadapi kemoterapi. Tapi itu adalah cerita lain.. Untuk sekarang, saya sangat bersyukur karena kami dipercaya untuk "mengemban" ujian ini, diingatkan untuk lebih dekat dengan-Nya, dan dimudahkan dalam proses treatment nya.

And at the end.. All I have to do is to chin up! C'est La Vie! Ada senang ada susah.. Ada naik ada turun.. Ada sehat ada sakit.. Yang jelas, Saya harus tetap kuat untuk suami dan Zeya tercinta.. SEMANGAT! ^^
Selengkapnya

"what is internet in hindi" || internet kya hai (in hindi)

What is internet in hindi ||history of internet in hindi "What is internet in hindi", today we all are trying to know about what i...