Showing posts with label Motherhood. Show all posts
Showing posts with label Motherhood. Show all posts

Setelah Selesai Kemoterapi..

By sulthan on Monday, October 17, 2016



Setelah melalui 8 kali siklus kemoterapi, akhirnya pada hari ini saya & suami saya kontrol ke dr. Hamid di RSPAD Gatot Subroto. Setelah menulis pengalaman Kemoterapi Pertama & Kedua, tidak banyak yang bisa saya bagikan dalam blog ini lagi. Saya malah banyak menulis tentang dunia motherhood dan mompreneur. Jujur saja, the past 7 months was overwhelming, dan berbicara tentang kemoterapi selalu membuat hati saya nyiiitt sampai sekarang.. Jadi saya akan mengulas sedikit saja pengalaman kemoterapi 3-8 dalam post ini.

Efek kemoterapi siklus ke 3-8 memiliki kesamaan pola; seminggu pertama pasti tepar. Suami saya memiliki jadwal kemo setiap hari Senin, per 3 minggu siklus. Setelah hari H, dia akan mulai fit kembali pada hari Minggu berikutnya, karena Senin setelah kemo, dia pasti 'mabok'. Di minggu inilah perjuangannya benar-benar terasa, karena terkadang saya habis akal, kata-kata, dan tenaga untuk bisa membuatnya nyaman. Memijat, memberi makanan, memeluk, mendoakan, memberi kata-kata semangat seakan tidak ada gunanya pada masa ini. Dia hanya bisa terbaring lemah dan sesekali mengerang kesakitan saking dahsyatnya efek yang dirasakan, dan pada saat seperti itu saya harus tetap 'chin up', demi dia, dan anak kami Zeya yang baru berumur 2 tahun.

Efek lainnya adalah kesemutan di ujung-ujung jari tangan dan kaki dan tingginya sensitifitas pada benda dingin. Kedua hal ini juga berlangsung selama kurang lebih satu minggu. Kebayang kan gak nyamannya. Di kemo ke-5, suami saya juga sempat mengalami kendala; suster kesulitan menemukan pembuluh darah di tangan sehingga harus berkali-kali pindah tangan dan tusuk sana-sini. Memang, salah satu efek kemoterapi adalah pembuluh darah menjadi lebih tipis dan kecil. Akhirnya, menjelang kemoterapi ke-6, suami saya mulai aktif berolahraga lagi dan latihan ringan untuk jari-jari dan tangannya. Alhamdulillah kemo ke-6 sampai 8 lancar tanpa hambatan pembuluh darah.

Seminggu setelah kemo, barulah dia fit kembali. Walaupun demikian, kami masih harus disibukkan dengan jadwal kontrol dan tes darah rutin yang membuat dia harus bolak balik rumah sakit setiap minggunya. Syukur alhamdulillah, kantor suami memberi kelonggaran sehingga suami saya pun bisa mendapatkan ijin sakit selama menjalani proses kemoterapi ini. Jika tidak, saya benar-benar tidak bisa membayangkan dia harus menempuh perjalanan jauh dan bekerja long hours dengan kondisi stamina yang sedang 'digempur habis-habisan' oleh obat kemoterapi.

However, untuk ukuran orang yang sedang (dan baru saja selesai) menjalani kemoterapi, suami saya terbilang cukup fit. Berat badannya malah naik pasca operasi Februari 2016 lalu, rambutnya tidak ada sedikitpun yang rontok, dan kulitnya tidak menghitam gosong (hanya muncul beberapa spot kecil di ujung-ujung jari). Pokoknya, tetep ganteng deh. Hehe.. Banyak orang bertanya "how come?".

Suami saya 3 hari pasca kemo ke-8. Masih berusaha ceria bermain dengan Zeya walaupun lagi mabok-maboknya. PS: look at those hair!

Ada beberapa jawaban untuk pertanyaan tersebut. Pertama, tentu saja karena izin Allah SWT. Kedua, menurut dokter bedah digestive yang menangani suami saya, obat kemoterapi itu ada rumusnya, jenis tumor itu ada rumusnya. Jika obat yang diberikan tidak sesuai dengan rumus tumornya dan tidak tepat sasaran baik dari segi jenis obat maupun dosis, kemoterapi bisa menjadi racun, namun jika tepat, efek buruknya bisa minim sekali. Alhamdulillah sekali lagi karena kami mendapatkan dokter yang super detail, teliti, dan tidak ragu untuk berbagi informasi dengan pasiennya. Ketiga, bisa jadi karena selama menjalani kemoterapi, suami saya digempur oleh air kangen dan berbagai suplemen, serta jamu yang akan saya tulis reviewnya di post terpisah nanti. Terakhir, dan yang paling penting; is because he is the bravest man I knew. Dia selalu bersemangat dan sabar dalam menjalani setiap prosesnya dan dia mau untuk ikhtiar bersama, termasuk meminum aneka jamu dan suplemen yang kadang rasanya gak karu-karuan.

Aneka minuman yang saya siapkan untuk suami saya setiap pagi dan malam.

And at the end, here we are. Standing at this point to be finally be able to say "WE MADE IT!"

Setiap pernikahan memiliki tantangannya masing-masing, dan untuk kami berdua, sakitnya suami ini merupakan tantangan terbesar dan terberat selama hampir 5 tahun pernikahan kami. Walaupun demikian saya sangat bersyukur karena diberikan pengalaman ini oleh Allah, because I learned so much from this experience. Saya diberikan kesempatan untuk bisa kembali meninjau tujuan hidup saya, prioritas saya, connecting with people who really care to us, and most importantly, belajar bahwa "what's essential is invisible to the eye". Suami saya adalah pria tersabar yang pernah saya kenal, and I'm so proud of him.

So today, is the end and at the same time, another new beginning for us. Setelah kemoterapi selesai, kami masih harus menjalani tes darah dan kontrol rutin setiap 3 bulan, USG abdomen dan rontgen setiap 6 bulan, dan CT Scan dan kolonoskopi setiap tahun selama 2 tahun pertama. Perjuangan belum berakhir, but for now, let's celebrate this new milestone and be ready for whatever comes in our way. Percaya bahwa Allah selalu ada untuk makhluk-Nya. Ganbatte! :)
Selengkapnya

Cerita Sukses Menyapih tanpa Drama

By sulthan on Saturday, September 24, 2016



Anyone who knows me and Zeya will agree; Zeya ratu nyonyon banget..! Di minggu-minggu pertamanya lahir ke dunia, dia pernah menyusu hingga 5 jam nonstop! Di usia 4 bulan, beratnya sudah 8kg. Semakin besar, frekuensi menyusunya tidak juga berkurang. Sampai usia 23 bulan saja dia masih bangun malam lebih dari 5x untuk menyusu. Sangat melelahkan, terutama karena saya masih harus bekerja mengurus NyoNya setelah Zeya tidur. Selama 'jam kerja' saya, saya harus bolak balik menyusui Zeya yang memang sering sekali terbangun. Memang sih, lama kelamaan saya terbiasa dan setelah absen ngeblog beberapa minggu, akhirnya jadi juga menulis post tentang Tips Mengatur Waktu untuk Mompreneur. Tapi kebayang kan jipernya saya menghadapi proses sapih.

Ternyata eh ternyata.. Hari ini, sepuluh hari setelah sapih, saya bisa berkata; alhamdulillah lancar jaya proses nya. Bebas drama. Kayanya ini achievement terbesar saya selama 2016. Bagi saya, melebihi achievement NyoNya yang bisa giving away 50 mio for charity. Haha..

Alright, back to the start. Di post kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang proses penyapihan ini. Perlu dicatat bahwa saya bukanlah orang yang percaya 100% sama teori, karena saya percaya bahwa anak juga manusia, bukan robot. Jadi tidak bisa semua teori parenting diterapkan sama ke semua anak, termasuk teori Weaning with Love (WwL). Jujur, penyapihan Zeya tidak full WwL karena masih melibatkan brotowali, tapi syukurlah kedua pihak (ibu dan bayi) tidak ada yang merasa disakiti atau drama berlebihan.

So, kenapa saya tidak memilih full WwL? Beberapa alasan; yang pertama karena saya termasuk yang percaya utk mengikuti anjuran dalam al Quran untuk menyusui sampai 2 tahun. Udah ada aturan dari yg Mencipta, pasti ada alasan di balik semuanya, dan salah satu teman saya memberi tahu saya bahwa setelah usia 2 tahun anak akan mulai mengenal nafsu & keinginan. That's why penyapihan di usia 2 tahun juga sebagai salah satu bentuk kontrol terhadap hal ini. However, saya belum menemukan artikel valid tentang pendapat ini, so it's up to you to believe or not..

Kedua, to be brutally honest, saya capek. Sebagai ibu yang mengurus anak balita, suami yang sedang chemotheraphy, dan anak balita yang masih menyusu, hari-hari saya selalu dilalui dengan kehectican. Alangkah nyamannya jika saya bisa tidur tanpa gangguan semalaman, demi merecharge tenaga supaya siap tempur lagi besok pagi nya.

Ketiga, melihat karakteristik Zeya yang Ratu Nyonyo, saya jadi berpikir "kalau WWL full, mau nunggu sampai kapan???" Wkwk.. Akhirnya saya memutuskan untuk menyapih Zeya tepat setelah dia berusia 2 tahun dan dengan menggunakan 'penghalang' brotowali, karena Zeya sensitif sekali dengan rasa pahit.

Jadi, untuk meminimalisir 'shock', 3 bulan sebelum sapih saya sudah countdown. Bilang kalau sesudah ulang tahun ke 2, Zeya tidak bisa nyonyo lagi, karena nyonyo sudah bukan untuk Zeya dan rasanya juga nanti jadi gak enak. Saya ulang-ulang terus perkataan itu sampai dia 'terbrain-wash' sampai-sampai kalau ditanya, "Zey, in three months?" dia akan menjawab "no nyonyo anymore!". Proses ini saya lakukan terus dan berulang-ulang terutama sebelum dia tidur.

Semakin mendekati hari sapih, sekitar satu bulan sebelumnya, bukannya berkurang, dia malah makin menjadi-jadi nyonyonya. Duh. Saya semakin pesimis apakah proses sapih nanti akan berjalan lancar atau tidak, tapi saya tetap keukeuh membrain wash dia soal kalau nyonyo itu untuk bayi. Saya juga menyelipkan poin ini di play time dia, misalnya saat kami bermain dokter-dokteran dan mendapat 'pasien balita', saya akan berkata "wah, kakaknya sudah besar ya.. Berani ke dokter, pasti sudah gak nyonyo". Seperti itulah..

Akhirnya, masa yang dinanti tiba juga. Zeya pun berulang tahun ke 2. Lho, tapi kok sekarang kebalik, malah saya nya yang galau gak karuan. Cemas apakah Zeya akan tersakiti atau tidak, apakah dia akan masih tetap dekat dengan saya, apakah saya akan masih bisa memeluknya, dan segelintir keraguan lain berkecamuk di pikiran dan hati saya. Sampai akhirnya, H+1 2 tahun, ibu saya memetikkan batang brotowali dan menyuruh saya untuk mengoleskannya pada puting. Ibu saya bilang bahwa untuk kebaikan anak, harus tega, harus keukeuh. Akhirnya saya meluruskan niat, dan dengan mengharap ridho Allah, saya oleskan brotowali tersebut.

Pagi hari sekitar jam 9, kami sedang menonton Shaun the Sheep di ruang tengah hingga akhirnya Zeya menggelendoti saya dan bilang "Mim, mau nyonyo." Saya mengingatkan dia "Zey, ingat lho Zeya sudah bukan bayi lagi, nyonyo kan untuk bayi. Gak enak lho.." Tapi dia ngotot sambil senyum-senyum tengil ngotot mau nyonyo. Dia bilang "coba aja, mim.." Ya sudah.. Baru menyentuhkan bibirnya ke PD saya, dia langsung menarik kepalanya/ Bengong lamaaaa dengan mulut terbuka, lalu heboh bilang "yuck! Nyonyonya gak enak. Mau minum!" Jauh di luar ekspektasi saya, dia tidak menangis sama sekali. Bahkan, setelah minum, dia malah tertawa kecil sambil bilang "ih, nyonyonya pait. Gak enak."

Setelah kejadian di pagi itu, akhirnya Zeya tidak mau menyusu, dia sendiri yang menolak. Saat malam tiba, saya deg-degan juga, gimana caranya Zeya bisa tidur padahal selama ini dia selalu menyusu sebelum tidur. Next thing I know, we lay on bed together reading books and prayers. Dia membolak balik buku cerita kesukaannya sampai bosan. Setelah itu dia berbaring dan bilang pada saya "Mim, nyonyo gak enak ya?" Saya menatap matanya, mengangguk pelan, dan tersenyum kecut. Is this the right thing to do? Saya bertanya dalam hati. Sekali lagi saya kuatkan diri saya. Dia pun lalu berkata lagi "Mim, pegang aja boleh?" saya pun mengiyakan. Akhirnya dia menempelkan pipinya ke dada saya, dan seiring dengan terpejamnya matanya, melambatnya nafasnya, Zeya pun terlelap ke alam mimpi. Air mata saya mengalir pelan. Menyapih anak berarti juga menyapih ibunya, dan momen ini menjadi sangat emosional bagi saya. Sambil mengecup tangan mungilnya, saya pun berdoa, mensyukuri apa yang sudah terjadi di hari itu. Bersyukur karena diberikan kesempatan untuk bisa full menyusui selama 2 tahun, bersyukur karena diberikan kemantapan hati untuk menyapih, dan bersyukur karena diberikan anak yang begitu manis. Tidak ada satu tangisan pun keluar dari bibir Zeya hari itu. Semuanya terjadi dengan begitu mudah. Alhamdulillah..

Tengah malam, seperti kebiasaannya di malam-malam sebelumnya, Zeya masih terbangun mencari nyonyo. Pada saat itu, yang saya lakukan hanya mengusap2 punggungnya pelan sambil berkata "Ssssttt.. Sayang, kan Zeya sudah besar, nyonyo buat bayi ya..". Dan dia berkata "oh iya" lalu kembali tidur.

Menjelang subuh, PD saya mulai bengkak, dan Zeya pun memang selalu kuat menyusu saat subuh. Oleh karena itu untuk menghindari shock pada PD, saya susui Zeya saat subuh itu. Tujuannya adalah supaya PD saya bisa menyesuaikan produksi air susunya tanpa perubahan yang drastis, dan dengan kondisi Zeya yang menyusu subuh (setengah sadar setengah tidur) membuat dia tidak ingat bahwa dia sudah menyusu dan keesokan harinya dia benar-benar tidak mau nyonyo. Rutinitas nyonyo subuh setengah sadar itu saya lakukan selama 3 malam. Setelah payudara dirasa tidak terlalu bengkak, saya pun akhirnya full memberhentikan nyonyo Zeya, termasuk saat subuh.

Hari pertama setelah full berhenti, PD saya mulai 'berbatu', namun saya siasati dengan kompres air hangat dan pijat. Saya juga sempatkan untuk mampir ke spa dan having a really nice full body massage. Surprisingly, posisi telungkup dengan punggung dipijat secara tidak langsung berefek ke PD juga. Setelah pijat, PD terasa lebih ringan. Alhasil, walaupun 'bebatuan' dan rasa tidak nyaman pada PD berlangsung sampai 2 mingguan, tapi saya tidak sempat merasakan meriang parah sampai mengganggu aktifitas saya, ataupun 'banjir ASI' seperti cerita-cerita orang tua saya dulu.

Sekarang, saya bisa say bye bye pada bra menyusui! Walaupun belum pada baju menyusui karena lemari saya penuh dengan NyoNya Nursing Wear dan MamiBelle. Haha..

So, itulah cerita saya menyapih anak pertama saya. Intinya, proses penyapihan dialami kedua belah pihak, menyapih anak sama dengan menyapih ibu. Maka dari itu selain menyiapkan mental anak, perlu juga untuk menyiapkan mental ibu. Selain itu, yakinkan diri dan percaya bahwa anak itu pintar, dia akan mengerti apa yang kita kataakan, jadi kalau kita terus encourage dia untuk "jadi besar", then she will. :)
Hope you all mommies out there have an easy and peaceful weaning process ya! See you on next post!

Best,
B
Selengkapnya

Membersihkan Slime dari Rambut

By sulthan on Tuesday, May 24, 2016



Anak-anak bocah kekinian pasti hapal dengan yang namanya slime. It's like ngehits banget di kalangan anak tanggung dan banyak banget anak kecil yang bisa mendapatkan uang jajan tambahan dari berbisnis slime, termasuk sepupu-sepupu zZey yang masih berumur sekitar 8-10 tahun. Ya, slime ini memang bisa dibuat dengan mudah di rumah, dan sebetulnya bisa dijadikan bahan bermain sensory play yang bagus untuk balita. Bisa belajar tekstur, warna, dll.

Tapi oh tapi.. Mainbya betul-betul harus dalam pengawasan, otherwise bisa jadi seperti yang saya alami beberapa.minggu yang lalu ini. Omg it was totally sensory play gone wrong. Ceritanya Zey baru mendapatkan slime dari salah seorang sepupunha dan dia suka sekali! Suatu pagi yang cerah, saya biarkan dia bermain-main dengan slime nya tentunya dengan pengawasan saya plus sambil disuapin juga. Nah, berhubung lauknya habis, pergilah saya ke dapur untuk mengambil lauk. Cuma 2 menit lho dan ketika saya kembali Zey duduk membelakangi pi tu sambil berkata "Mim, hair.. Zey hair..".

Saat saya periksa, ya ampyuuun setumplek slime sudah ada di rambut bagian depannya. Saya langsung panik dan bungung. Sempat galau apakah harus dipotong rambut Zey atau berusaha dibersihkan saja. Kalau dipotong sudah pasti pitak. Aaaah! Galau sekali! Ibu mertua yang kebetulan sedang ada di rumah langsung menyuruh saya memotong rambut nya karena takut Zey kesakitan jika dibersihkan.

Ok, saya mencoba cara pertama, pakai baby oil. Lepas sih sedikit2 bangeeeettt bisa lama dan Zey keburu kesakitan. Bingung, saya diamkan dulu berharap abinya Zey yang sedang pergi jogging busa memberi masukan. Sepulang abinya, saya langsung menunjukkan kehebohan yang terjadi dan abinya dengan santai menjawab "slime kan ada sabun cair nya, pakai air aja pasti hilang kok". Wekwekweeeeeww.. I feel so stupid instantly. Inilah bedanya insinyur beneran dan insinyur abal-abal. Hahaha..

Akhirnya, saya dan Zey pun pergi mandi berdua. Berbekal shampoo bayi dan sisir kecil, saya siram dan pakaikan shampoo rambutnya. Ternyata bener! Bisa lepas lebih cepat dari baby oil dan sangat mudah. Ta.. tapiiiii.. Berhubung Zey hanyalah balita 20 bulan yang tidak sabaran seperti balita lain pada umumnya, jadilah prosesnya super drama sekali!! Penuh air mata dan tangisan "aduuuuh.. atiiit..". Wkwk..

Setelah kurang lebih 15 menit akhirnya rambut Zey bebas slime. Drama pun diakhiri dengan menyusu dan wejangan-wejangan dari mimim tentang bermain aman. Sekarang, Zey masih suka bermain slime tapi dengan extra pengawasa  dari Mimim dan dia sendiri yang selalu mengingatkan "slime not hair..". Hihihi..
Selengkapnya

Baby Play: Rainbow ice Pompoms

By sulthan on Monday, May 9, 2016



Setelah long weekend kemarin kami jalan 4 hari berturut-turut (dan tepar), akhirnya hari Senin ini saya, Zey, dan teteh (asisten baru di rumah) stay at home sedangkan abi Zey pergi ke RS bersama mertua saya untuk menjalani kemoterapi yang ke dua. Sedikit sedih karena selama 2x kemoterapi saya tidak mendampingi suami. Tapi apa dikata, Zey belum apet (dekat) dengan siapa-siapa sedangkan anak kecil tidak boleh ikut masuk ke ruang kemo. Alhasil saya harus cukup puas hanya dengan mendoakan dari rumah dan menyiapkan 'amunisi' untuk dimakan suami sepulang kemoterapi nanti.

Anyway! Berhubung Abi sudah berangkat dari Subuh, jadi saya dan Zey punya waktu banyak di pagi hari untuk bermain bersama. Permainan kali ini saya sebut Rainbow Ice Pompoms. Idenya sih untuk mengakomodir passion Zey yang mana lagi seneng-seneng nya main air dan lagi penasaran-penasarannya sama es batu! Detailnya di bawah ini ya..

Rainbow Ice Pompoms
Alat dan Bahan:
- Cetakan es batu
- Pompom bulu sejumlah lubang cetakan es
- air (untuk membuat es dan untuk mengisi bak)
- bak main (kami baru saja membeli bak ini di IKEA untuk menggantikan bak balon Zey). Bisa juga pakai jolang untuk mandi.
- baskom kecil untuk es batu.
- Aneka sendok, saringan, dan wadah kecil for extra fun!

Jadi.. Malam sebelumnya saya buatlah es batu dengan pompom warna warni di dalamnya untuk kita mainkan hari ini. Besoknya, saya tuangkan air hangat ke dalam bak main dan menyimpan es batu warna warni di dalam baskom. Setelah mengganti 'kostum' Zey, saya bimbing dia untuk masuk ke dalam bak. Game on!


There's so much things to talk about in this play. Berawal dari perbedaan panas dan dingin, padat dan cair, arti meleleh, arti mengalir, menghitung pompom, dll. Dan setelah selesai dengan "pelajarannya", saya biarkan Zey eksplorasi sendiri dengan aneka sendok, saringan, dan wadah kecil sementara saya mengajari ART baru beres-beres (tetep meng-inem. Wkwk). Hasilnya, kurang lebih 1 jam Zey anteng dan fokus exploring. Happy mama happy tot!


Interesting isn't it? So.. You can try to do this with your little one at home because it's really fun and easy to prepare. ;)

PS: tidak perlu minta izin, jika artikel ini dirasa bermanfaat, silakan share. :)
Selengkapnya

Baby Play: Flour Drawing

By sulthan on Friday, May 6, 2016



Tidak terasa Senin besok suami saya akan menjalani kemoterapi nya yang ke dua (dan saya belum sempat nulis tentang pengalaman kemoterapi pertamanya. Hehe). Malam ini saat semuanya sudah tidur, I went through photos on my phone and saw our memories in Korea. Salah satu foto yang menarik perhatian saya adalah foto Zey dan Abi nya sedang bermain bersama. Saya langsung ingan bahwa saya belum post permainan Zey yang satu ini.

Flour Drawing atau menggambar di tepung, permainan ini sangat mudah disiapkan dan bisa menjadi ajang melatih imajinasi dan kreativitas anak. Berikut cara membuatnya.

Alat & Bahan:
- baking pan
- mentega
- tepung (any kind of flour)
- cotton buds

Olesi baking pan dengan mentega, taburi dengan tepung. Ratakan dan sisihkan sisa tepung. Basically just what you do when you want to bake something. ;)
Ulangi langkah jika tepung mulai habis.

Cara bermain:
Bimbing anak untuk menggambar menggunakan cotton buds di atas baking pan tersebut. Talk about the drawing as you go.

Happy playing!


Selengkapnya

Baby Play: Unwrap the Boxes

By sulthan on Sunday, March 27, 2016



Seperti biasa karena suami saya berobat dengan BPJS, setiap jadwal kontrol akan menjadi hari yang panjang untuk kami, karena antriiiii lama..

However, kontrol minggu kemarin terbilang sukses karena kami bisa sampai rumah sebelum ashar. Sampai rumah, Zey dan abinya tidur siang dengan pulasnya. Untunglah! Jadi bisa ngasih saya waktu untuk membuat mainan Zey, setelah sekian lama dia tidak bermain sensory play ala ala pinterest.

Permainan kali ini saya sebut Unwrap the Boxes. Terinspirasi dari kegemaran Zey membuka bungkusan (apapun) akhir-akhir ini. It's so easy and no messy! Karena tidak melibatkan air, pasir, atau benda-benda "berantakan" lainnya.

So here we goes..

Alat & bahan:
- balok-balok alphabet kecil (bisa diganti dengan benda apapun yang ada di rumah)
- kertas lipat warna warni
- selotip & gunting



Cara membuat:
- bungkus balok kayu dengan kertas lipat warna warni
- kumpulkan

Cara bermain:
Biarkan anak berusahaembuka bungkusan satu per satu. Encourage them to finish it all, dan bisa diseling juga dengan belajar berhitung atau mengenal warna.

Zey senang sekali membuka satu per satu bungkusan 'kado' ini. Walaupun isinya sama, tapi dia berhasil tekun membuka sampai bungkusan terakhir. Lumayan.. Bisa ngasih emaknya waktu 20 menitan buat selonjoran. Hehehe..

Selamat mencoba!

Selengkapnya

Baby Play: Rings & Stick

By sulthan on Friday, March 11, 2016


Dua minggu belakangan saya benar-benar disibukkan oleh kegiatan menemani suami saya yang baru saja dioperasi kanker usus besar. Kami pun (lagi-lagi) pindah tempat dan tinggal di apartemen di dekat RSPAD supaya saya bisa tetap menemani suami dan dan mengurus Zeya, karena tidak mungkin membawa Zeya ke rumah sakit setiap hari.

Konsekuensinya, tempat baru, adaptasi lagi, berantakan lagi lah jadwal Zeya. Apalagi karena saya lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit (dia tinggal di apartemen dengan neneknya), waktu bermain kami berdua menjadi sangat berkurang. Saya sampai galau dan menulis post ini. Akhirnya, saya selalu berusaha make it up dengan meluangkan waktu untuk curi-curi bermain di kegiatan rutin harian saya. Contohnya saat mandi.

Berhubung saya mengurus Zeya tanpa pengasuh, saya pun terbiasa untuk mandi bersama dia. Selain hemat waktu, mandi bersama juga bisa menjadi ajang bonding kami. Selama tinggal di apartemen ini, saya harus menjadi lebih kreatif supaya kegiatan ini bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk kami berdua; bonding time, Zeya's skill development,  and my own sanity (please!). Hehe.

Nah.. Salah satu permainan yang sering kami lakukan saat mandi akhir-akhir ini adalah permainan Rings & Stick ini. Kebetulan apartemen yang saya tinggali sangat dekat ke Plaza Atrium Senen, sehingga saya bisa membeli gelang-gelang plastik untuk kegiatan ini. Jadi.. Permainannya seperti ini:

Alat:
- 1 buah ember (diisi air)
- gelang-gelang plastik (bisa diganti karet gelang juga)
- 1 buah sumpit (atau 2, untuk emaknya satu)
- 1 buah mangkok plastik (atau gayung) untuk menampung hasil tangkapan

Cara bermain:
- masukkan gelang-gelang plastik ke dalam ember berisi air, aduk air untuk menciptakan pusaran
- bimbing anak untuk mengaitkan gelang pada sumpit
- taruh gelang yang berhasil ditangkap ke dalam mangkuk plastik
- dorong anak untuk menyelesaikan tugasnya sampai akhir

Menurut pengamatan saya, permainan ini bagus untuk melatih hand-eye coordination, patience, nad persistence. Well of course Zeya is not perfect, terkadang dia lost interest di tengah-tengah permainan. But it's alright! Always praise her effort and we can always try again later. And most of all, have fun! ;)
Selengkapnya

Chin Up! C'est la vie!

By sulthan on Friday, March 4, 2016



Setelah berada kurang lebih sebulan di Indonesia untuk mengurus NyoNya dan menghadiri acara NNW 2nd Anniversary Lunch, saya dan Zey pun dijadwalkan untuk pulang ke Korea pada tanggal 19 Februari 2016 yang lalu. Tapi ternyata Allah Maha Asyik, suami saya mendapatkan tugas dinas ke Indonesia pada tanggal 23-25 Februari, alhasil flight saya dan Zey diundur menjadi tanggal 28 Februari.

It's all seemed so perfect until 2 weeks before our flight, suami saya mengeluh sakit perut seperti ditusuk, meriang namun tidak demam, dan BAB berdarah. Saya ingat pada tahun 2014 yang lalu dia pernah didiagnosa wasir, dan pada bulan Desember 2015 dia mengalami gejala serupa juga. Karena adanya riwayat wasir tersebut, suami saya yang cukup sehat sehingga jarang ke dokter, menolak untuk dibawa ke dokter. However, karena range dari Desember-Februari cukup dekat dan saya sedang berada di Indonesia, saya sarankan suami saya untuk periksa ke dokter.

Akhirnya, periksa lah suami saya ke dokter gastro di Soon Chun Hyang University Hospital Seoul. Mendengar penjelasan suami saya, dokter langsung menyuruh dia untuk segera kolonoskopi. Hasil kolonoskopi keluar seminggu kemudian dan selama itu dia masih aktif bekerja seperti biasa, malah load kerjaan lebih dari biasanya karena kebetulan kantor suami sedang sibuk luar biasa.

Satu minggu berlalu, suami saya pun kembali ke rumah sakit dan hasilnya ternyata sangat mengejutkan! Setelah dilakukan kolonoskopi dan biopsi sample, suami saya didiagnosa terkena kanker usus besar (colon cancer). Suami saya shock, saya yang mendengar via telepon shock bukan main, dokter pun shock berat karena suami saya baru berusia 27 tahun, tidak merokok, tidak minum alkohol. HOW COME??!! Dokter di Korea menyarankan untuk segera dilakukan pemeriksaan menyeluruh, dan pada akhirnya karena dia akan tugas ke Indonesia, kami memutuskan bahwa check up lebih lanjut akan dilakukan di Indonesia.

Flight suami pun dipercepat menjadi tanggal 20 Februari. Hari Seninnya, kami langsung mengunjungi poli bedah di RSPAD Gatot Subroto Jakarta (alasan pemilihan RS ini adalah karena fasilitas dan alat-nya sudah banyak diupgrade waktu jaman Pak SBY dulu, dan kami juga ada kerabat yang merekomendasikan RS ini). Hasil check up dan konsultasi dengan dokter bedah digestif di RSPAD mengkonfirmasi diagnosa dokter Korea, bahwa memang ada kanker pada usus besar suami saya. Namun, untuk mengetahui sudah sejauh mana penyebarannya, perlu dilakukan CT scan.

Alhamdulillah jalannya dimudahkan oleh Allah Sang Maha Pembuka Jalan. Kami mendapatkan jadwal CT Scan hari kamis nya. Setelah melakukan CT Scan, diketahui lah bahwa kanker suami saya sudah mencapai stadium 3B. Hari itu juga suami saya masuk opname dan dijadwalkan untuk operasi pada hari Senin minggu depannya.

Dua malam pertama sejak mengetahui berita tersebut dipenuhi oleh air mata. Apalagi pada saat itu posisinya suami saya masih di Korea. "What should I do?" memenuhi otak saya. Tapi saya sadar, saya tidak boleh terjebak emosi negatif karena suami membutuhkan dukungan saya. Jadi instead of energi nya dihabiskan untuk menangis, mencari kambing hitam, atau marah, saya fokuskan untuk berdoa dan mencari kisah-kisah sukses orang yang sembuh dari kanker. Selanjutnya, saya langsung menyuruh dia untuk STOP makan nasi, daging merah, dan dairy products (susu, keju, dan sebangsanya). He was raw vegan sampai hari operasi tiba. Saya juga mengganti air minum nya dengan Kangen Water dan air Zam-Zam.

Support system pun dibentuk. Karena Zey masih menyusu dan sangat time-energy consuming untuk bolak balik Jatiwarna-Senen setiap hari, saya pun menyewa apartment Mitra Oasis tepat di depan RSPAD supaya saya bisa tek tok antara suami dan Zey. Ibu dan adik saya dari Bandung pun diboyong untuk membantu mengasuh Zeya. Mama mertua pun cuti panjang demi untuk menunggui anaknya.

Hari operasi pun tiba. Berjuta doa saya panjatkan untuk suami tercinta. Saya mengantarnya sampai ruang tunggu operasi. Kami bahkan sempat bercanda sebelum masuk ruangan. That was my goal indeed.. Untuk tidak terlihat stress di depan dia karena semangat adalah faktor nomor 1 untuk kesembuhan pasien kanker. Operasi berlangsung lama, 4 jam. Tapi berkat rahmat Allah SWT melalui tangan dr. A. Hamid dan tim nya, operasi pengangkatan kanker usus suami saya berjalan lancar.

Proses recovery pun berjalan dengan sangat memuaskan. Di hari ke-3 pasca operasi, semua selang (lambung, catheter, oksigen) sudah dilepas. Sudah bisa minum dan sedikit-sedikit belajar jalan. Lukanya pun sudah hampir kering. Saya sangat terharu dan bangga melihat semangat dia untuk segera sembuh.

Sekarang, perjuangan selanjutnya masih harus dilakukan. Setelah hasil patologi anatomi terhadap tumor dilakukan, kami harus menghadapi kemoterapi. Tapi itu adalah cerita lain.. Untuk sekarang, saya sangat bersyukur karena kami dipercaya untuk "mengemban" ujian ini, diingatkan untuk lebih dekat dengan-Nya, dan dimudahkan dalam proses treatment nya.

And at the end.. All I have to do is to chin up! C'est La Vie! Ada senang ada susah.. Ada naik ada turun.. Ada sehat ada sakit.. Yang jelas, Saya harus tetap kuat untuk suami dan Zeya tercinta.. SEMANGAT! ^^
Selengkapnya

Dear Zeya..

By sulthan on Thursday, March 3, 2016



Dear Zeya..
Maafkan mim ya, Nak..
Maaf karena hidupmu selalu penuh ketidakpastian dan adaptasi. Membuatmu capek, bingung, dan rungsing.

Kamu mungkin bertanya dimana Nesa mu saat kita meninggalkan Subang.
Kamu mungkin bertanya dimana Boneka Piglet dan Donal Bebek saat kita meninggalkan Bandung.
Kamu mungkin bertanya dimana mobil-mobil yang biasa lalu-lalang di depan kosan kita di Jakarta.
Kamu mungkin bertanya dimana angsa-angsa yang biasa kamu lihat di pagi hari depan rumah kita di Jatiwarna.
Kamu mungkin bertanya siapa orang-orang ini dan mengapa mereka terlihat begitu berbeda saat kita pertama menginjakkan kaki di Seoul..
Hatimu hancur karena Enin yang menemani di Seoul selama 2 bulan tiba-tiba harus pulang ke tanah air. Kamu sedih sampai harus dirawat di rumah sakit..
Dan sekarang.. Pasti kamu bertanya dimana Shi Yan, Bin Sol, Joon Hye, Aneira, atau Neil teman-temanmu di Seoul berada?
Dan mim yakin pasti banyak sekali pertanyaan-pertanyaan lain di otakmu, Nak..

Zeya Nak..
Maafkan mim ya?
Maaf karena Mim tidak seperti ibu-ibu yang lain..
Maaf karena mim tidak bisa memberimu jadwal harian yang 'pasti'.
Maaf karena mim tidak punya 'dapur tetap' sehingga tidak bisa membuatkanmu makanan yang lucu-lucu.
Maaf karena kita pindah tempat begitu sering sehingga kamu harus bertemu dokter yang berbeda untuk banyak imunisasimu.
Maaf karena kamu harus tidur di tempat tidur berbeda hampir setiap 2 minggu. Meninggalkan buku-buku favoritmu dan Bubu the Sheep yang suka kamu pakaikan bajumu.
Maaf karena mim tidak seperti those pinterest moms yang selalu siap menyediakan pernak pernik sensory play untukmu.
Maaf karena kamu sering.. Dan sangat sering tidur siang di pelukan mim daripada di tempat tidur yang pantas.

Zey..
Mim sangat berterima kasih dan mim memaafkanmu, Nak..
Jika kamu susah makan, karena pasti tidak mudah menyesuaikan lidah dengan masakan berbeda begitu sering.
Jika kamu 'lupa' pada keluargamu, karena kita memang sudah lama tidak bertemu mereka, Nak..
Jika kamu selalu minta digendong, karena mim tahu zona nyamanmu satu-satunya saat ini adalah pelukan mim.

Zeya sayang..
Mim harap kamu tahu kalau mim sayang sekali padamu dan mim akan selalu berusaha memberi yang terbaik untukmu..
Bahwa dunia ini memang membingungkan tapi Mim akan selalu berada di sisimu.
Dan mim juga harap kamu tidak terpengaruh oleh orang-orang yang tidak mengerti kondisi kita..

Tidak apa, sayang.. Tidak apa untuk bicara 3 bahasa sekaligus, Mim mengerti, Nak..
Tidak apa jika kamu tidak 'ramah' dan tidak mau digendong semua orang. Mim tahu kamu anak yang cerdas, tahu siapa orang-orang terdekatmu.
Tidak apa untuk makan sedikit-sedikit selama itu nyaman untukmu, karena Mim akan selalu memberi pilihan makanan yang bergizi..
Dan tidak apa-apa jika kamu merasa hanya Mim yang mengerti kamu. Because I do..
I will always beside you no matter what. Hang on there, Baby..
We'll get through this together. I promise..

Gwaenchanayo, Zey.. Gwaenchana..

Love,
Your Mimim
Selengkapnya

Menghilangkan Noda Lipstik dari Kain

By sulthan on Friday, December 11, 2015



So.. This was happening one day. Silence never been a good sign when you have a toddler, and this happened with mine. Baru banget satu hari beli lipstik The Face Shop yang menurut saya warnanya cantik banget, eh besoknya sudah dipatahkan Zey daaaan belepotan kemana-mana termasuk ke dress cantiknya. Aaaaa...

Singkat cerita problem solved.

But this mama hasn't learned her lesson, and now she got one so she feels the need of writing this post and let other mamas know..

Pagi tadi, saya lupaaaa mengunci laci kosmetik saya dan Zey mengambil lipstik yang lain (kali ini milik adik saya yang sedang liburan di Seoul), dan dengan semena-menanya 'melukis' dengan lipstik DI SOFA!! GOSH! I was freak out because I love the sofa so much! Panik, saya pun mengambil tisu basah dan mulai menggosok. Tidak berhasil. Lalu saya ingat kejadian pertama dan yang saya lakukan adalah:

Menggosok baju Zey dengan sabun cuci muka.

Alhasil, saya ambil sabun cuci muka saya dan saya gosokkan dengan menggunakan tisu basah ke bagian sofa yang terkena lipstik. Ajaib! Setelah menggosok untuk waktu yang tidak lama, noda lipstik di sofa pun menghilang. Hilang lang lang! Walaupun harus mengorbankan berjuta-juta tisu basah dan sabun muka, tapi tak apalah demi sofa kesayangan. Wkwkwk..

Well, pelajaran untuk para mama ya.. Hati-hati dengan balita anda dan lipstik! They can be verrryyy meeeaaann.. Hahaha
Selengkapnya

Baby Play: Penne Necklace

By sulthan on Wednesday, December 2, 2015



Waktu Zey masih belum bisa berjalan dan maunya ditemani terus, saya berpikir "pasti kalau Zey sudah bisa jalan dan bisa anteng sendiri, saya punya lebih banyak waktu untuk menulis blog"

I've never been so wrong, saudara-saudara..

Ternyata Zey tumbuh menjadi anak super lincah, aktif dan penuh dengan rasa ingin tahu. Membuat saya senantiasa harus keeping eyes on her. Yang terjadi adalah waktu bebas saya dalam sehari hanya ada dalam rentang pukul 9-12 malam. Itu pun harus dibagi-bagi antara pekerjaan rumah, bisnis baju menyusui saya (www.nyonyanursingwear.com), dan mengurus suami. Alhasil, menulis blog menjadi nomor kesekian dalam daftar prioritas saya.

But anyway! I'll try my best to keep up because writing blog has a calming effect for me. It's just like chocolate. Hehehe..

Okay, jadi ceritanya suatu hari kami akan pergi playdate ke COEX Aquarium. Seperti biasa, jika akan bepergian, persiapan rempong. Mulai dari perbekalan makanan, popok, sampai mini books. Di hari itu, Zey juga sedang rungsing, dia tidak mau membiarkan saya jauh dari dia. Tring! Tiba-tiba muncul ide untuk membuat dia anteng sejenak main bersama abinya.

Saya pun menyiapkan perlengkapan membuat kalung dari penne ini. Persiapan less than 5 minutes dan bisa membuat Zey anteng selama kurang lebih 45 menit bersama abinya sementara saya bersiap-siap dan membereskan rumah. Pheeeww..! (The perks of living abroad tanpa ART. Heuheu..)

Dan inilah alat dan bahan untuk kegiatan 'prakarya balita' ini:

Alat dan Bahan:
1. Penne warna-warni (bisa beli langsung atau diwarnai sendiri dengan vinegar dan pewarna makanan jika ada waktu. No time? Penne polosan pun jadi)
2. Stik kecil (bisa dari tusuk gigi yang dipotong ujungnya atau batang cotton buds)
3. Benang wool atau benang kasur
4. Selotip

Cara:
1. Kumpulkan penne dalam wadah, sisihkan
2. Talikan benang wool pada stik kecil, rekatkan dengan selotip. Kunci ujung benang satunya dengan selotip.
TARAAAA!! Jadi deh..

Untuk balita seumur Zey waktu itu (14 bulan), memasukkan penne ke batang sendiri bisa jadi hal yang bikin frustasi (karena penne yang sudah masuk tidak langsung 'ngegelosor' ke ujung benang), jadi bisa juga batang dipegangi oleh orang tua dan si anak memasukkan penne ke ujung batang. Great bonding time for toddler & parents too! Selamat bermain!



Selengkapnya

Baby Play: Alphabet Jelly

By sulthan on Saturday, November 14, 2015



So..
Pada saat ini di Seoul sudah memasuki musim gugur alias autumn, dan suhu serta curah hujannya naik-turun. Some nights we feel okay, but then it dropped to -1, who knows..
One day, it was raining outside plus I had to launch NNW new collection, so it means no going out for that day. As an active toddler, Zeya tentunya tidak bisa begitu saja anteng di rumah tanpa difasilitasi sesuatu yang 'menantang' rasa ingin tahunya yang besar. Akhirnya, setelah browsing-browsing di pinterest, saya menemukan ide untuk bermain jelly ini.

Permainan jelly ini bertujuan untuk mengenalkan tekstur kepada zey. Selain itu melatih otot-otot jarinya dengan meremas-remas jelly, dan melatih ketekunannya karena dalam permainan ini, Zey harus mengeluarkan huruf plastik yang sengaja saya sempilkan di tengah jelly.

Lalu bagaimana cara membuatnya? Mudah sekali!
1. Siapkan satu bungkus jelly warna apa saja. Saya memilih warna primer (merah, kuning, atau biru) supaya saya bisa mencampurnya dengan pewarna makanan untuk menghasilkan warna lain. Lebih hemat karena tidak perlu 'buang' berbungkus-bungkus jelly.
2. Panaskan jelly dengan komposisi air 1,5x lipat dari yang seharusnya. Jika di bungkus jelly dikatakan air 500ml, maka untuk membuat adonan ini saya menggunakan 750ml air.
3. Tarus jelly ke beberapa tempat berbeda dan beri pewarna sesuai selera. Diamkan sebentar.
4. Taruh huruf plastik (bisa diganti mainan lainnya) dalam wadah/loyang. Setelah jelly agak dingin, tuang ke dalam loyang.
5. Biarkan dingin sebelum diberikan kepada si kecil.

Tadaaaa...!! Hasilnya? Lumayan lah. It could engaged Zey for half an hour. Gak bisa lebih dari itu karena ternyata Zey agak jijik dan geli sama jelly nya. Namun demikian, hal tersebut tidak mematahkan semangat dia untuk bisa mengambil huruf-huruf tersebut. Well done Zey!



Selengkapnya

Baby Roll Play

By sulthan on Friday, September 25, 2015



Sejak jadi ibu (dan tanpa ART ataupun nanny), salah satu barang mewah yang jarang saya dapatkan ada privacy atau me time. Termasuk saat.. Di toilet! Hahaha.. Bagaimana tidak, mandi saja bareng sama Zey dan saat melakukan 'panggilan alam' pun Zey suka ngintil. Hadeh..
Tepat di sebelah toilet di rumah kami adalah dinding dengan tempat toilet paper (seperti gambar di bawah ini). Saat menunggu saya 'doing business', Zey biasanya bermain dengan toilet paper dan itu bikin saya jadi gak tenang haha.. Jadilah saya berfikir untuk membuat sesuatu yang bisa membuat dia anteng di kamar mandi tanpa membuat saya khawatir. Jadilah saya membuat Baby Roll Play ini.



Bahan-bahannya mudah:
- Karton bekas tisu dapur (kitchen paper)
- Kertas kado warna warni (saya pakai 3 warna, kebetulan ada di rumah)
- Gunting
- Selotip/double tape

Caranya mudah. Pertama-tama karton bekas tisu dapur dibagi 2, dimasukkan ke dalam tiang (bisa tiang apapun yang terdapat di rumah sih). Satukan kembali dengan selotip.



Setelah itu potong-potong kertas kado sesuai ukuran karton. Lekatkan ke karton dengan selotip/double tape. Lanjutkan dengan semua warna kertas kado.



Voila! Jadi deh! Sekarang Zey punya mainan baru tanpa harus menghambur-hamburkan tisu toilet. Bayi senang, ibu tenang.. Hehehe


Selengkapnya

Saat Bayi Susah Makan

By sulthan on Tuesday, September 22, 2015



Since I introduced Zeya to solids 4 months ago, she has always been a good eater. Makannya lahap, apa saja suka, sudah bisa minum dari sedotan sejak usia 6 bulan, dan sebagainya. Namun demikian, bukan berarti dia tidak pernah GTM (Gerakan Tutup Mulut) lho. Ada kalanya dia juga malas makan, dan berhubung minggu kemarin dia baru saja tumbuh gigi pertama (ya, di umur satu tahun. She's kinda late in that), jadilah GTM itu baru saja kami alami.

Lalu saya jadi terinspirasi untuk membuat post ini. Apa yang saya lakukan jika bayi susah makan?

Yang pertama dan utama, jangan panik! Terutama jika bayi belum berumur satu tahun karena sebelum umur satu tahun, food is only for learn & fun. Belajar tekstur, rasa, warna, dan lain-lain. Nutrisi utama tetap datang dari ASI atau formula. Jadi selama si bayi mimi-nya bagus, ibu tidak perlu cemas.

Yang kedua, jangan dipaksa. Memang sih stress lihat anak gak mau makan, dan dengan semua makanan yang lagi-lagi terbuang rasanya gemas sekali ingin memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Tapi please, jangan dipaksa. Siapapun tidak suka dipaksa melakukan sesuatu termasuk bayi. Memaksa bayi untuk makan hanya akan membuat dia trauma ke depannya. We don't want it to happen, mamas..

Yang ketiga, keep food handy. Siapkan makanan dan cemilan dalam porsi kecil sehingga kapanpun si kecil sedang anteng atau main, kita bisa menawarkannya makanan. Sukur-sukur dimakan. Kalau engga, dicoba lagi nanti. Telaten is the key.

Yang ke empat. Coba buat makanan dengan tekstur berdeda. Jika bayi selama ini makan bubur atau tim, coba tawarkan finger food. Berhubung Zeya BLW (Baby Led Weaning), saya malah sebaliknya, menawarkan bubur. Selain itu saya juga membuat smoothies yang kaya gizi, sehingga nutrisi banyak masuk dengan sekali sedot. ;)

Terakhir, enjoy! Apapun penyebabnya, GTM bayi biasanya hanya sementara kok. Selama bayi sehat, ceria, tidak demam, dan tetap aktif, saya biasanya tidak panik berlebihan.
Selengkapnya

Busy Baby: Pull the Ropes Box

By sulthan on Wednesday, August 5, 2015

Akhir-akhir ini saya menyadari satu hal yang membuat Zey (11 bulan) terhibur: menarik sesuatu, dan seringnya menarik keluar tisu dari tempatnya. Saya bukan termasuk ibu yang langsung heboh atau melarang jika melihat anak "berulah". Biasanya saya tanya apa yang dia lakukan, menjelaskan bahwa benda tersebut bukan mainan sambil membereskannya, dan mengalihkan perhatian dia terhadap benda lain. Namun, setelah beberapa kali, Zey tidak juga bosan dengan aktifitas menarik tisu ini.

Saya pikir mungkin sensasi 'menarik' nya itu yang membuat dia senang. Akhirnya seperti biasa, untuk memuaskan ke-curious-an dia, saya pun membuatkan mainan Pull the Ropes ini (emak hagemaru mode: ON). Hasilnya: Zey bisa anteng sampai setengah jam main tarik tali sana sini. Lumayan, saya jadi bisa melipat jemuran atau ngepel kamar dia. Hehehe..

Cara buatnya gampang. Satu kardus bekas (ukurannya jangan terlalu besar supaya mudah dipegang bayi) dan macam-macam tali. Saya dapat tali dari bekas paper bag, tali bekas mengikat bunga, dll. Setelah itu buat lubang-lubang secara acak di kardus, masukkan satu tali ke satu atau dua lubang dan simpulkan ujungnya. Buat variasi posisi simpul di dalam dan luar box. Voila! Mainan murah meriah. :P

Melihat Zey bermain ini, saya menyadari beberapa pelajaran yang mungkin bisa didapat Zey dari aktifitas bayi ini:
1. Melatih motorik halus. Tangan bayi terlatih untuk menjumput (pincer grasp) karena ujung simpul tali hanya bisa ditarik dengan menjumput.
2. Melatih logika berpikir sebab-akibat. Zey terlihat berfikir keras ketika bermain, "mengapa jika saya tarik simpul yang ini, simpul yang satunya bergerak?"
3. Melatih kesabaran. Ada kalanya dia ngambek jika simpul nya susah untuk diambil, dan pada saat itulah saya bisa menyemangati dia untuk bersabar dan mencoba lagi.

Nah, 1 curiosity problem solved. I believe many more to come! Emaknya harus kreatif terus nih.. Hehe.. Oia, video Zey bermain bersama kotak tali ini bisa dilihat di instagram saya ya @tanita_87 ;)
See you on next post!


Selengkapnya

"what is internet in hindi" || internet kya hai (in hindi)

What is internet in hindi ||history of internet in hindi "What is internet in hindi", today we all are trying to know about what i...