
Dhuerr!! Dhueerr! Dhueerr!
Suara membahana mewarnai langit Sungai Han Gang pada Sabtu, 3 Oktober 2015. Tepat di malam itu, diadakan Seoul International Fireworks Festival yang dimeriahkan oleh 3 negara (Amerika, Filipina, dan Korea Selatan itu sendiri). *or should we say Seoul Trio-Country Fireworks Festival? Hehehe..
Anyway! Rangkaian acara pada hari itu dimulai dengan panggung hiburan pada jam 14:00. Acara tahunan yang sangat populer ini selalu berhasil mengundang banyak pengunjung. Bahkan banyak dari mereka yang sudah nge-take tempat sejak jam 9 pagi lho. Persiapannya pun niat banget. Sampai bawa tenda, bantal, dan selimut. Wow! Maklum.. Lewatin jam tidur siang. Hehe..
Pada awalnya saya tidak berminat untuk datang langsung ke tempat acara di depan 63 bulding (tempat syuting film the Avengers). Tapi, karena beberapa orang teman yang punya toddler juga datang ke sana, saya pun memberanikan diri untuk datang. Tentunya setelah membungkus Zeya dengan baju hangat karena suhu udara di awal Oktober ini sudah mulai drop ke angka belasan derajat.
Beruntung karena ternyata kondisi tidak se-crowded dan se-chaos yang dibayangkan. Menurut teman kami yang juga datang tahun lalu, jumlah pengunjungnya jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya. Baguslah, kami jadi bisa terus masuk ke Hangang Park mendekati tempat penembakan kembang api. Kami pun mendapatkan spot yang cukup enak untuk duduk. Saya mengambil beberapa foto kembang apinya walaupun tidak banyak karena sebagian besar waktu dipakai untuk menikmati acara.



Parade kembang api dimulai oleh Amerika yang berlangsung selama 20 menit. Dilanjut oleh Filipina selama 20 menit juga dan ditutup oleh Korea Selatan selama 40 menit! Pertunjukkan kembang api Korea Selatan dipadukan dengan pemutaran video, tarian, dan lagu. Semuanya tertata apik dan diakhiri dengan guyuran kembang api berbentuk air mancur yang ditembakkan dari Mapo Bridge (apa Hangang Bridge ya? Salah satu dari itu deh. Hehe).
Begitu pertunjukan kembang api selesai, lautan manusia langsung berbondong-bondong berjalan pulang ke rumah masing-masing. Kami pun pulang berjalan kaki dan mampir sebentar di depan KBRI untuk jajan odeng (otak-otak) dan twikim (gorengan udang, cumi, dll pakai tepung disiram kuah gochujang). Setelah perut hangat, perjalanan pulang pun dilanjutkan dengan kembali berjalan kaki. Beruntung apartment kami terletak tidak jauh dari situ. Hanya sekitar setengah jam berjalan kaki. Overall, what a great fireworks, great night, great friends, and great jajanan! ;)

Home » Posts filed under hidup di korea
Festival Kembang Api di Korea Selatan
By sulthan on Sunday, October 4, 2015
Makanan Murah Meriah di Korea
By sulthan on Saturday, September 26, 2015
Buat yang mau berkunjung ke Korea on budget, saya kasih rekomendasi makanan murah meriah enak untuk menghemat pengeluaran selama liburan. Onigiri! Hohoho..
Onigiri ini dijual di mini-market yang tersebar di seluruh penjuru kota. Mulai dari GS25, CU, dan lain-lain. Rasanya macam-macam dan enak-enak! Untuk teman-teman muslim, bisa mencoba rasa tuna mayonnaise atau jeonju bibim tuna. Dengan harga rata-rata 800-1.200 won, onigiri ini lumayan banget untuk ganjal perut. Jadi bisa berhemat deh buat beli oleh-oleh. Hehe
Merayakan Idul Adha di Negeri Ginseng
By sulthan on Thursday, September 24, 2015
Waktu Idul Fitri kemarin, saya tidak menulis apapun tentang itu karena saya merasa kurang afdol tidak ikut Shalat Ied. Hehe.. Nah, pada Idul Adha kali ini alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk melaksanakan Shalat Ied Adha dengan lancar.
Karena tidak adanya arahan dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) untuk pelaksanaan shalat Ied, akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk mengikuti shalat di taman tidak jauh dari daerah tempat kami tinggal. Kebetulan di daerah tersebut terdapat komunitas muslim Indonesia yang juga rutin mengadakan acara pengajian dan shalat Jum'at. Kami berangkat dari rumah pukul 07:30. Tidak susah membangunkan Zeya karena dia sudah bangun dari jam 6 pagi! She was excited too I assume..
Kami pun naik bis menuju Yeongdeungpo Park dan sesampainya disana ternyata sudah terbentuk beberapa shaf. Alunan takbir pun mengalun pelan namun syahdu. Maklum lah, tidak harus dengan TOA saja, barisan orang duduk rapi dengan 'jubah' dari atas sampai bawah sudah cukup menarik perhatian para Seoulista yang sedang berolahraga pagi. Apa lagi kalau sambil heboh pakai TOA. Hehehe.. Saya dan suami pun berpisah menuju shaf masing-masing.
Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya Shalat Ied pun dimulai. Satu hal yang sangat saya syukuri, Zeya anteng mulai dari datang sampai selesai khutbah. Kuncinya: saya sogok dengan cemilan dan buku cerita. Hehehe.. Jadi dia anteng makan anggur dan cheerios. Khutbah dilaksanakan dalam 3 bahasa; Indonesia, Inggris, dan Arab. Tapi itu kayaknya sih, soalnya suaranya gak begitu kedengeran dan saya juga sibuk 'mengakomodir' Zeya. Duh! Kurang khusyuk jadinya :,D
What's next? Tentunya tidak ada acara rumah jagal potong kambing atau sapi karena saya sendiri kurban di Indonesia. Mungkin kalau shalat Ied di Itaewon (dimana terdapat mesjid terbesar di Korea) ada ya. Tapi kami sekeluarga bersama teman-teman akhirnya pergi juga ke Itaewon untuk makan kambing! Biar afdol ceritanya. Heuheu.. Kami pun menyantap aneka kari di restoran India dengan konsep all you can eat.
Well, itulah pengalaman saya berlebaran Idul Adha pertama kali di negeri ginseng ini. Gak ada sungkem dengan keluarga, insiden kambing lari mau dipotong, opor, atau ketupat. Sangat berbeda jauh dengan apa yang saya rasakan back home in Indonesia dan tentunya momen seperti ini selalu membuat saya rindu tanah air.. But anyway! Eid Mubarak for all of you. May peace always be upon us. :)
Mengatur Sampah ala Korea
By sulthan on Saturday, September 5, 2015
Di Korea, sampah dipisah bukan hanya dari segi organik dan anorganik atau kering dan basah, tapi.. BANYAK!! Pertama, di rumah saya harus memisahkan sampah ke dalam 3 kategori:
1. Sampah makanan
2. Sampah yang dapat didaur ulang (recycle)
3. Sampah lain-lain yang tidak masuk ke dalam 3 kategori tersebut (popok bekas, tissue bekas, cangkang kerang, dan lain-lain)
Sampah makanan dan sampah lain-lain harus dimasukkan ke dalam plastik khusus seperti di bawah ini. Di plastik tersebut tertera informasi mengenai wilayah sehingga akan mudah melacak sampah ini datang dari wilayah mana. Eits, tunggu dulu. Plastik ini gak gratis lho. Saya harus membelinya dulu di convenient store (mini market). Setiap bulannya saya harus merogoh kocek sekitar 10.000 won (sekitar Rp 120.000) untuk membeli plastik sampah ini.
Setelah memilah sampah menjadi 3 kategori tersebut, saya harus membawa sampah-sampah tersebut sendiri ke tempat sampah bersama yang ada di lantai basement apartment. Tempat sampah bersama ini terbagi menjadi beberapa ruangan.
Ruangan yang pertama merupakan tempat untuk menyimpan sampah besar seperti furniture. Di ruangan ini juga terdapat loker-loker untuk menyimpan sampah pakaian, lampu, dan batre. Seringkali barang yang dibuang masih bagus-bagus lho. Gatel rasanya pengen ambil (jiwa hagemaru. Wakakak). Untuk membuang sampah-sampah besar seperti furniture, kita lagi-lagi harus mengeluarkan uang. Bulan lalu saya baru saja membuang sofa karena sudah jebol dan lagi-lagi harus membayar 10.000 won.
Ruangan ke dua adalah ruangan khusus sampah makanan, sampah lain-lain, dan sampah kantong kresek. Sampah makanan dan kantong kresek dimasukkan ke dalam gentong yang telah disediakan, sedangkan plastik berisi sampah lain-lain ditumpuk rapi.
Ruangan ke tiga adalah ruangan sampah daur ulang. Nah, biasanya disininPR nya. Sampah daur ulang yang sudah kita pisahkan di rumah harus dipisahkan kembali ke dalam karung-karung dengan kategori berbeda:
- plastik pembungkus
- plastik botol
- kaca atau gelas
- sterofoam
- kertas
- kardus
Iya, itu suami saya yang sedang memilah sampah pakai jas. Hahaha.. Di sini biasa banget lihat yang cantik dan ganteng nenteng dan masuk ke tempat sampah. Semua orang punya tanggung jawab yang sama.
Saat tinggal di Indo, saya sudah terbiasa memilah sampah menjadi organik dan anorganik, dan setelah 'naik level' dalam hal pengelolaan sampah di Korea, saya pun merasakan beberapa manfaat:
1. Buang sampah jadi gak sering-sering. Tidak harus setiap hari membuang sampah karena terbagi jadi 3 bagian, sehingga tidak selalu penuh setiap hari. Memang ada resiko bau untuk sampah makanan, tapi bisa diantisipasi dengan menggunakan tempat sampah bertutup atau segera memasukkan sisa makanan ke dalam plastik, diikat rapat, dan dimasukkan ke dalam freezer sampai waktunya dibuang nanti.
2. Lebih bersih dan tidak jijik. Saya ingat sekali sewaktu saya kecil dan sampah di rumah kami masih di campur. Rasanya pemandangan ke tempat sampah tuh gak banget. Kertas, plastik, sisa makanan, dan lain-lain bercampur jadi satu. Eewwww...
3. Lebih aware tentang kegiatan konsumsi dan belanja pribadi, karena setelah diperhatikan sampah kering (anorganik) jauh lebih cepat terisi daripada sampah makanan. Gak heran kan kenapa di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Indonesia sampah bisa menggunung? Karena yang bisa cepat terurai jumlahnya kalah jauh dibanding yang tidak bisa atau sulit terurai. Hal ini membuat saya berpikir dua kali jika mau membeli makanan take away atau delivery.
Nah.. Itulah cerita saya tentang pengelolaan sampah rumah tangga di Seoul. Hmmm.. Kalau sistem seperti ini diterapkan di Indonesia, kira-kira pada mau gak ya untuk tertib menjalankannya? :)
Sikhye: Minuman Beras ala Korea
By sulthan on Thursday, September 3, 2015
Saat masih tinggal di Indonesia, minuman favorit saya adalah N* Green Tea Madu. Tiap hari minum itu juga saya sanggup. Hihi.. Sesampainya di Korea, saya pun langsung eksplor aneka minuman manis untuk menemukan minuman favorit pengganti.
Ternyata eh ternyata.. Banyak minuman yang rasanya aneh-aneh. Hahaha.. Mulai dari minuman ginseng merah plus madu lah, teh jagung lah. Sampai akhirnya salah satu teman saya disini menyuruh saya mencoba ini.
Namanya Sikhye. Mungkin kalau di Indonesia air tajin, karena ini basically minuman beras manis. Bahkan di bawahnya ada bulir-bulir beras yang sudah lembek.
Pertama kali mencoba, "hmmm.. ini rasa baru buat saya. Yeah, it's okay lah..". Tapinlalu saya membeli lagi untuk ke dua kalinya saat sedang haus-hausnya dan enak banget ternyata! Efek penghilang hausnya sama kaya kalau kita minum air tebu. Selain itu manisnya juga pas. Mantep deh pokoknya.
Jadi, buat kamu yang sedang atau akan berkunjung ke Korea, wajib mencoba Sikhye ini. Sikhye bisa ditemukan di vending machine yang ada dimana-mana atau covenient store (GS25 atau CU). Worth to try apalagi untuk yang suka coba-coba rasa baru. ;)
"what is internet in hindi" || internet kya hai (in hindi)
What is internet in hindi ||history of internet in hindi "What is internet in hindi", today we all are trying to know about what i...








